KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahiim…
Alhamdulillah, segala puji hanyalah milik Allah, dialah yang mengajarkan
manusia dengan pena dia pula yang mengajarkan manusia apa yang tidak di
ketahuinya.
Segenap shalawat dan salam
senantiasa tercurah untuk sang kekasih Allah, pembawa peringatan dan kabar
gembira ialah salallahua’alaihi wassalam, yang mengeluarkan manusia dari ujung
kenistaan, keterbelakangan ilmu-ilmu pengetahuan serta keburukan moral kepada
cahaya kehidupan yang penuh cinta ,cita, dan cipta.
Alhamdulillah, berkat
rahmat sang illahi rabbi taufik dan hidayat Nya-lah makalah ini telah
selesai walau banyak sekali hambatan yang terkadang membakar semangat penulis
tetapi penulis percaya dapat merampungkannya, dengan dibuatnya makalah ini menjadi lebih bermakna karena telah menambah wawasan dan pengalaman
penulis.
Selanjutnya sebuah pepatah
mengatakan bahwa “tak ada gading yang tak retak” maka penulis menyadari bahwa
penulisan makalah ini masih kurang untuk di katakan sempuna.
Atas segala perhatiannya pemakalah mengucapkan
kata banyak terima kasih semoga bermanfaat bagi pembaca dan pemakalah.
Pekanbaru, Oktober 2013
Pemakalah
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Dalam perkembangan setiap individu sejak lahir hingga akhir hayatnya pasti akan mengalami proses
belajar dan akan menuju tingkat
kedewasaan atau kematangannya
baik secara langsung maupun tidak langsung, Dalam proses ini perubahan tidak
terjadi sekaligus tetapi terjadi secara bertahap. Perkembangan individu ditunjukkan bagaimana perkembangan
anak-anak, remaja dan dewasa tumbuh dan berkembang secara pisik, psikis dari
fase ke fase seperti dalam hal pertumbuhan pisik, kognitif, afektif, sosial,
psikomotor, moral.
Di dalam bidang kegiatan pendidikan di
sekolah atau lembaga pendidikan formal, proses
pengajaran dan pembelajaran sangat penting dalam perkembangan belajar individu
demi menuju keberhasilannya. Proses pengajaran dan pembelajaran tidak akan bisa
berjalan efektif dan efisien apabila seorang pendidik tidak memahami
perkembangan peserta didik secara menyeluruh. Untuk itu pendidik memerlukan
pengetahuan tentang perkembangan individu peserta didik.
B. Rumusan
Masalah
1. Apakah pengertian Perkembangan?
2. Apakah Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan?
3. Bagaimana Perkembangan Bahasa Dalam Individu?
4. Apakah Tugas-tugas Perkembangan Bahasa?
5.
Bagaimana Perkembangan
Motorik, Kognitif dan
Moral?
6.
Bagaimana Arti Penting Perkembangan Bagi Proses
Pembelajaran?
BAB
II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Perkembangan
Kata perkembangan seringkali digandengkan dengan pertumbuhan dan
kematangan. Ketiganya memang mempunyai hubungan yang sangat erat. Pertumbuhan
dan perkembangan pada dasarnya adalah perubahan, perubahan menuju ke tahap yang
lebih tinggi atau lebih baik. Ada
beberapa perbedaan antara pertumbuhan dengan perkembangan. Pertumbuhan lebih
banyak berkenaan dengan aspek-aspek jasmaniah atau fisik, sedang perkembangan
berkenaan dengan aspek-aspek psikis atau rohaniah. Pertumbuhan menunjukkan
perubahan atau penambahan secara kuantitas, yaitu penambahan dalam ukuran besar
atau tinggi, sedang perkembangan berkenaan dengan peningkatan kualitas, yaitu
peningkatan dan penyempurnaan fungsi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
pertumbuhan berkenaan dengan penyempurnaan struktur, sedang perkembangan dengan
penyempurnaan fungsi.[1]
Menurut Mc. Leod dalam Syah ( 2004 ), menjelaskan perkembangan
adalah proses atau tahapan pertumbuhan ke arah yang lebih maju. Pertumbuhan
sendiri berarti tahapan peningkatan sesuatu dalam hal jumlah, ukuran, dan arti
pentingnya.
Dalam Dictionary of
psychology, perkembangan pada prinsipnya adalah tahapan-tahapan yang
progresif yang terjadi dalam rentang kehidupan manusia dan organisma lainnya.
Jadi perkembangan adalah perubahan-perubahan yang dialami oleh individu menuju
tingkat kedewasaannya yang berlangsung secara sistematis, progresif dan
berkesinabungan.
Yang dimaksud dengan sistematis adalah perubahan dalam perkembangan
itu bersifat saling kebergantungan atau saling
mempengaruhi antara bagian-bagian organisma ( fisik dan psikis ) dan merupakan
satu kesatuan yang harmonis. Seperti kemampuan berjalan anak-anak seiring
dengan matangnya otot-otot kaki.
Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat
dan mendalam( meluas ) baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Misalnya
terjadi perubahan proporsi dan ukuran fisik anak dari pendek menjadi tinggi,
kecil menjadi besar, dan perubahan pengetahuan dan kemampuan anak dari yang
sederhana sampai kepada yang kompleks, seperti mulai mengenal abjad dan angka
hingga mampu membaca dan berhitung.
Kontiniu atau berkesinambungan berarti, perubahan pada bagian atau
fungsi organisma itu berlangsung secara beraturan atau berurutan, tidak terjadi
secara kebetulan atau loncat- loncat. Misalnya untuk mampu berjalan seorang
anak harus terlebih dahulu bisa duduk dan merangkak. [2]
B. Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Perkembangan
Dalam berbagai literatur-literatur yang menjelaskan tentang
perkembangan, bahwa masalah hereditas dan lingkungan merupakan faktor penting
yang mempengaruhi perkembangan manusia. Salisu Shehu dalam Aliah ( 2006 ),
menyebutkan bahwa bukan hanya faktor hereditas dan lingkungan saja yang penting
dalam mempengaruhi perkembangan manusia, tetapi dalam perspektif Islam, bahwa
faktor ketentuan Allah SWT merupakan hal yang mempengaruhi perkembangan dan
pertumbuhan.
Faktor hereditas dan faktor lingkungan sebagai dua faktor yang
mempengaruhi perkembangan, telah
banyak dijelaskan dalam Islam seperti:
Bahwa seorang yahudi bertanya kepada nabi Muhammad saw tentang
penentuan jenis kelamin bagaimana terjadinya? Nabi menjawab sebagai berikut:
”Sperma pria adalah putih dan sel telur perempuan kekuning-kuningan.
Jika mereka bertemu ( terjadi pembuahan ) dan sperma pria mengungguli sel telur
perempuan, hasilnya akan menjadi jenis kelamin laki-laki dengan seizing Allah,
dan jika sel telur perempuan menggungguli sel sperma pria hasilnya akan menjadi
perempuan dengan seizing Allah”(
HR.Bukhari )
“persamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti pedagang
minyak kasturi dan peniup api tukang besi. Si pedagang minyak kasturi mungkin
akan memberinya padamu, atau engkau membeli padanya, atau setidaknya engkau
dapat memperoleh bau yang harum darinya, tapi si peniup api tukang besi mungkin
akan mempuat pakaianmu terbakar atau kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap
darinya” ( HR. Bukhari
).\
Jadi, Islam memandang manusia sebagai makhluk Allah yang harus diatur,
dijaga, dikontrol dan diarahkan oleh kekuatan dan kehendak yang maha kuasa,
yang tidak terbatas.[3]
C.
Perkembangan Bahasa Dalam Individu
Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Bahasa adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa. Alquran menggambarkan bahwa
kemampuan manusia untuk berbahasa merupakan kemampuan yang membuat manusia
memiliki kelebihan dibandingkan dengan malaikat ( QS. Al-Baqarah: 30-33 )
Bahasa sangat erat kaitannya dengan perkembangan berfikir individu.
Perkembangan individu tampak dalam perkembangan bahasanya yaitu kemampuan
membentuk pengertian, menyusun pendapat dan menarik kesimpulan. Perkembangan
fikiran itu dimulai pada usia 1,6- 2,6 tahun yaitu pada saat anak dapat
menyusun kalimat dua atau tiga kata. Laju perkembangan itu sebagai berikut:
a.
1,6 tahun, anak dapat menyusun pendapat positif “ bapak makan “
b.
Usia 2,6 tahun, anak dapat menyusun pendapat negatif ( menyangkal )
“ bapak tidak makan )
c.
Pada usia selanjutnya, anak dapat menyusun pendapat kritikan,
keragu-raguan dan menarik kesimpulan.
Aliah B. purwakania ( 2006 ), membagi laju perkembangan bahasa anak
mulai dari prelingustic phase, selanjutnya tahap holophrasastic
periode dan telegraphic periode.[4]
D.
Tugas-tugas Perkembangan Bahasa
1.
Pemahaman
Yaitu
kemampuan memahami makna ucapan orang lain.
2. Pemahaman
pembendaharaan kata
Pembendaharaan kata-kata anak berkembang dimulai secara lambat pada
usia dua tahun pertama, kemudian mengalami tempo yang cepat pada usia
pra-sekolah dan terus meningkatkan setelah anak masuk sekolah.
3. Penyusunan
kata-kata menjadi kalimat
Kemampuan
menyusun kata-kata menjadi kalimat pada umumnya berkembang pada usia dua tahun.
Bentuk kalimat pertama ialah kalimat tunggal ( kalimat satu kata ) dengan disertai “ gesture “ untuk melengkapi
cara berfikirnya. Contohnya, anak menyebut “ bola” sambil menunjuk bola itu
dengan jarinya. Kalimat tunggal itu berarti “ tolong ambilkan bola itu untuk
saya”. Menurut Davis, Garrison dan Mc Carthy ( E. Hurlock, 1956 ) anak yang
cerdas, anak wanita dan anak yang berasal dari keluarga berada, bentuk kalimat
yang diucapkannya itu lebih panjang dan kompleks dibandingkan dengan anak yang
kurang cerdas, anak pria dan anak yang berasal dari kelurga miskin.
4.
Ucapan
Kemampuan
mengucapkan kata-kata merupakan hasil belajar melalui imitasi ( peniruan ) terhadap suara-suara yang di dengar dari orang lain (
terutama orang tua ). [5]
E.
Proses dan Tugas Perkembangan
Dalam konteks perkembangan, proses berarti tahapan-tahapan
perubahan yang dialami seseorang baik yang bersifat jasmaniah maupun rohaniah.
Menurut Hurlock ( 1980 ), manusia tidak statis atau mandek, karena
perubahan-perubahan senantiasa terjadi dalam dirinya dalam berbagai kapasitas (
kemampuan ) baik yang bersifat biologis maupun psikologis.
Secara umum, seluruh proses perkembangan individu sampai menjadi “
person “ ( dirinya sendiri )
berlangsung dalam tiga tahapan, yaitu:
1.
Tahapan proses konsep ( pembuahan sel ovum ibu oleh sel sperma ayah
)
2.
Tahapan proses kelahiran ( lahirnya bayi dari rahim atau perut ibu
ke dunia bebas)
3.
Proses perkembangan individu bayi menjadi seseorang pribadi yang
khas.
Di dalam konsep Islam, tahap konsepsi ( sebelum kelahiran ) sudah
melalui sekurang-kurangnya tiga tahap pula, yaitu”
1.
Nutfah ( mani )
2.
‘Alaqah ( darah )
3.
Mudghah ( segumpal daging )
Proses dari nutfah ke ‘alaqah membutuhkan waktu 40 hari demikian juga dari ‘alaqah ke mudghah.
setelah tiga tahap itu dilalui, tahap berikutnya sama dengan yang telah
disebutkan diatas. Tentang proses kejadian manusia, alquran telah secara tegas
menyebutkan yang artinya:
“sesungguhnya Kami telah
menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal
darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak
sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan di dalam rahim, apa
yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkam
kamu sebagai bayi, kemudian ( secara berangsur-angsur )kamu sampailah kepada
kedewasaan, dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan ( ada pula ) diantara
kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi
sesuatu pun yang dahulunya diketahuinya. ( QS Al-Hajj: 5 )
Merujuk kepada psikologi perkembangan yang membahas tahapan-tahapan
perkembangan individu dari masa bayi hingga tua, terdapat enam tahapan
perkembangan individu dan tugas-tugas perkembangannya.
1. Fase
bayi/kanak-kanak dan tugas-tugas perkembanganya
Disebut fase bayi yaitu sejak seorang individu manusia dilahirkan
dari rahim ibunya hingga berusia lebih kurang satu tahun. Tugas-tugas
perkembangan pada fase ini adalah sebagai berikut.
a. Belajar memakan
makanan keras.
b. Belajar
berjalan yang di awali dengan telungkup, merangakak dan belajar berdiri dengan
berpegangan pada dinding dan kursi
c. Belajar bicara.
d. Belajar
mengendalikan pengeluaran benda-benda buangan dari tubuhnya,misalnya mulai
dengan meludah, membuang ingus dan seterusnya.
e. Belajar
membedakan jenis kelamin dan bersopan santun.
f. Mencapai
kematangan untuk belajar membaca(mulai siap mengenal huruf, suku kata-kata
tertulis).
g. Belajar
mengadakan hubungan emosional selain dengan ibu dan ayahnya,saudara
kandungnya,dan orang-orang di lingkungannya.
h. Belajar(bisa)membedakan
yang baik dan yang buruk, juga antara yang benar dan yang salah, dan
mengembangkan kata hati.
2. Fase anak-anak
dan tugas perkembangannya
Masa anak-anak berlangsung antara usia 6 sampai 12 tahun dengan
ciri-ciri utama: (a) memiliki dorongan untuk keluar dari rumah dan memasuki
kelompok sebaya, (b) keadaan fisik yang memungkinkan anak memasuki dunia
permainan dan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan jasmani, (c) memiliki
dorongan mental untuk memasuki dunia konsep,logika dan komunikasi yang luas.
Tugas-tugas perkembangan pada fase ini adalah sebagai berikut.
a.
Belajar keterampilan fisik yang diperlukan untuk bermain, seperti
lompat jauh, lompat tinggi, mengejar, menghindari kejaran dan seterusnya.
b.
Membina sikap yang positif terhadap dirinya sendiri sebagai seorang
individu yang sedang berkembang, seperti kesadaran tentang harga diri ( self
esteem ) dan kemampuan diri(self efficacy).
c.
Belajar bergaul dengan teman-teman sebaya sesuai dengan etika moral
yang berlaku di masyarakat.
d.
Belajar memainkan peran sebagai seorang pria ( jika ia sebagai
seorang pria ) dan sebagai wanita ( jika ia seorang wanita ).
e.
Mengembangkan dasar-dasar keterampilan membaca, menulis dan
berhitung.
f.
Mengembangkan konsep-konsep yang diperlukan kehidupan sehari-hari.
g.
Mengembangkan kata hati, moral dan skala nilai yang selaras dengan
keyakinan dan kebudayaan yang berlaku di masyarakat.
h.
Mengembangkan sikap objektif baikn positif maupun negatif terhadap
kelompok dan lembaga kemasyarakatan.
i.
Belajar mencapai kemerdekaan atau kebebasan pribadi sehingga
menjadi dirinya sendiri yang independen ( mandiri ) dan bertanggung jawab.
3.
Fase remaja dan tugas-tugas perkembangannya.
Pada masa ini merupakan masa yang penuh kesukaran dan persoalan,
bukan saja bagi remaja itu sendiri, tetapi juga bagi orang tua, guru dan
masyarakat di sekitarnya. Sebagian ahli psikologi menyatakan bahwa masa remaja
terdiri atas tiga subperkembangan, yaitu: (a) subperkembangan prapuber selama
kurang lebih dua tahun sebelum masa puber, (b) subperkembangan puber selama dua
setengah sampai tiga setengah tahun,dan (c) subperkembangan post puber, yakni
saat perkembangan biologis sudah lambat tapi masih terus berlangsung pada
bagian-bagian organ tertentu. Saat ini merupakan akhir masa puber yang mulai
menampakkan tanda-tanda kedewasaan. Tugas-tugas perkembangan pada fase ini
adalah sebagai berikut.
a.
Mencapai pola hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya
yang berbeda dengan jenis kelamin sesuai dengan keyakinan dan etika moral yang
berlaku dalam masyarakat.
b.
Mencapai peranan sosial sebagai seorang pria dan wanita selaras
dengan tuntutan sosial dan kutural masyarakat.
c.
Menerima kesatuan organ-organ tubuh sebagai pria atau wanita dan
menggunakannya secara efektif sesuai dengan kodratnya masing-masing.
d.
Keinginan menerima dan mencapai tingkah laku sosial tertentu yang
bertanggung jawab di tengah-tengah masyarakat.
e.
Mencapai kemerdekaan dan kebebasan emosional dari orang tua dan
orang-orang dewasa lainya dan mulai jadi seorang “person” (menjadi dirinya sendiri).
f.
Mempersiapkan diri untuk mempersiapkan karir tertentu dalam bidang
ekonomi.
g.
Mempersiapkan diri untuk memasuki dunia perkawinan atau kehidupan
berkeluarga ( sebagai suami atau istri ).
h.
Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman
bertingkah laku dan mengembangkan ideologi untuk keperluan kehidupan
kewarganegaraannya.
4.
Masa dewasa awal dan tugas-tugas perkembangannya.
Fase
perkembangan saat seorang remaja mulai memasuki masa dewasa, yakni antara umur
21 sampai 22 tahun disebut masa dewasa awal. Menurut Havighurst ( 1953 ) dalam
Andi Mappiare, tugas-tugas perkembangan fase dewasa awal adalah sebagai
berikut.
a.
Memilih teman bergaul ( sebagai calon suami atau istri ).
b.
Belajar hidup bersama dengan suami istri.
c.
Mulai hidup dalam keluarga atau hidup berkeluarga.
d.
Belajar mengasuh anak-anak.
e.
Mengelola rumah.
f.
Mulai bekerja dalam suatu jabatan.
g.
Mulai bertanggung jawab sebagai warga negara secara layak.
h.
Memperoleh kelompok sosial yang seirama dengan nilai-nilai
pahamnya.
5.
Masa setengah baya dan
tugas-tugas perkembangannya
Masa yang berlangsung antara umur 40 sampai 60 disebut masa
setengan baya. Oleh sebagian orang, usia ini disebut dengan masa pubertas
kedua. Adapun tugas-tugas pada masa ini adalah sebagai berikut.
a.
Mencapai tanggung jawab sosial dan kewarganegaraan secara lebih
dewasa.
b.
Membantu anak-anak yang masih berusia belasan tahun agar berkembang
menjadi orang dewasa yang bahagia dan bertanggung jawab.
c.
Mengembangkan aktifitas dan memanfaatkan waktu luang sebaik-baiknya
bersama orang-orang dewasa lainya.
d.
Menghubungkan diri sedemikian rupa dengan pasangannya sebagai
seorang pribadi yang utuh.
e.
Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan
psikologis yang lazim terjadi pada masa setengah baya.
f.
Mencapai dan melaksanakan penampilan yang memuaskan dalam(karier)
propesi dan jabatannya.
g.
Menyesuaikan diri dengan perikehidupan orang-orang dengan usia
lanjut.
6.
Masa tua dan tugas-tugas perkembangannya.
Oleh para ahli
psikologi, khususnya psikologi perkembangan, masa ini merupakan masa akhir
kehidupan manusia. Masa tua berlangsung antara 60 tahun hingga meninggal dunia.
Masa ini biasanya ditandai oleh perubahan-perubahan kemampuan motorik yang
semakin merosot.
Adapun
tugas-tugas perkembangan pada masa tua, sesuai dengan berkurangnya kekuatan dan
kesehatan jasmaniahnya adalah sebagai berikut.
a. Menyesuaikan
diri dengan menurunya kekuatan dan kesehatan jasmaniahnya.
b. Menyesuaikan
diri dengan keadaan pensiun dan berkurangnya penghasilan.
c. Menyesuaikan
diri dengan kematian pasanganya(suami/istri).
d. Membina hubungan
yang tegas dengan para anggota kelompok seusianya.
e. Membina
pengaturan jasmani sedemikin rupa agar memuaskan dan sesuai dengan kebutuhanya.
f. Menyesuaikan
diri terhadap peranan-peranan sesuai dengan cara yang luas.
Di dalam memahami tugas-tugas perkembangan seperti disebutkan di
atas, perlu memperhatikan
prinsip-prinsip perkembangan sebagai berikut.
a. Perkembangan
melibatkan perubahan.
b. Perkembangan
awal lebih kritis ketimbang pekembangan selanjutnya
c. Perkembangan
merupakan hasil proses kematangan dan belajar.
d. Pola
perkembangan dapat diramalkan.
e. Pola
perkembangan mempunyai karakteristik dapat diramalkan.
f. Terdapat
perbedaan individu dalam perkembangan.
g. Periode pola
perkembangan.
h. Pada setiap
periode perkembangan terdapat harapan sosisal.
i.
Setiap bidang perkembangan mengandung bahaya yang potensial.
j.
Kebahagaiaan berfariasi pada berbagai periode perkembangan.
Apabila merujuk kepada pendapat Hurlock (1997), setiap individu
secara umum akan mengalami perkembangan yang meliputi aspek-aspek:
1.
Perkembangan fisik
2.
Perkembangan motorik
3.
Perkembangan bicara
4.
Perkembangan emosi
5.
Perkembangan sosial
6.
Perkembangan bermain
7.
Perkembangan kreatifitas
8.
Perkembangan pengertian
9.
Perkembanagn moral
10.
Perkembangan peran seks
11.
Perkembangan kepribadian.[6]
F.
Perkembangan Motorik, Kognitif
dan Moral.
Proses
perkembangan individu, dapat dikelompokkan ke dalam tiga aspek, yaitu
perkembangan motorik, sosial dan moral.
1.
Perkembangan Motorik ( Motoric Development )
Dalam istilah psikologi, istilah motormenunjuk pada hal,keadaan dan
kegiatan yang melibatkan otot-otot juga gerakan-gerakan. Motor dapat pula
berarti segala keadaan yang meningkatkan atau menghasilkan stimulasi atau
rangsangan terhadap kegiatan organ-organ fisik.
Dengan
demikian, perkembangan motorik berarti proses perkembangan yang progresif (
maju ) dan berhubungan dengan perolehan aneka ragam keterampilan fisik anak (
motor skill ).
2. Perkembangan
Kognitif
Istilah
kognitif ( Cognitive ) berasal dari
kata cognition yang padanan katanya knowing, yang artinya mengetahui. Dalam
arti luas, cognition ( kognisi )
ialah perolehan, penataan dan penggunaan pengetahuan ( neisser, 1976 dalam
Muhibbin Syah, 1996:65 ).
Jadi,
perkembangan kognitif atau cognitive
development, , yakni perkembangan fungsi intelektual atau proses
perkembangan kemampuan atau kecerdasan otak anak.
Jean
Piaget, seorang pakar terkemuka dalam disiplin psikologi kognitif dan psikologi
anak, mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi empat tahapan
yakni,
a.
Tahap sensory-motor, yakni
perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 0-2 tahun.
b.
Tahap pre-operational, yakni
perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 2-7 tahun.
c.
Tahap concrete-operational, yakni
perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 7-11 tahun.
d.
Tahap formal-operational, yakni
perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 11-15 tahun ( syah, 1996:66
).
3.
Perkembangan Sosial dan Moral ( social
and moral development )
Perkembangan sosial dan moral yakni proses perkembangan mental yang
berhubungan dengan perubahan-perubahan cara anak berkomunikasi dengan orang
lain, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Perkembangan ini
berlangsung sejak masa bayi hingga akhir hayat.
Seperti juga proses perkembangan yang lainya, perkembangan sosial
dan moral siswa juga selalu berkaitan dengan proses belajar. Ini bermakna bahwa
proses belajar itu amat menentukan kemampuan siswa dalam bersikap dan
berperilaku sosial yang selaras dengan norma-norma moral agama, tradisi, hukum
dan moral lainnya yang berlaku dalam masyarakat.[7]
G.
Arti Penting Perkembangan Bagi Proses
Pembelajaran
Antara
perkembangan dan belajar terdapat hubungan sangat erat, sehingga hampir semua
proses perkembangan memerlukan belajar. Pengetahuan tentang proses perkembangan
dengan segala aspeknya sangat banyak manfaatnya, antara lain:
a)
Guru dapat memberikan layanan
bantuan dan bimbingan yang tepat kepada para siswa, relevan dengan
tingkat perkembanganya.
b)
Guru dapat mengantisipasi
kemungkinan-kemungkinan timbulnya kesulitan belajar siswa tertentu, seterusnya
segera mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menanggulanginya.
c)
Guru dapat mempertimbangkan waktu
yang tepat untuk memulai aktivitas proses belajar mengajar tertentu.
d)
Guru dapat menemukan dan menetapkan
tujuan-tujuan pembelajaran dan pengajaran materi pembelajarn tertentu
(syah,1996:82).[8]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Manusia
membutuhkan kepandaian yang bersifat jasmaniah dan rohaniah, dan ini dapat
dicapai melalui belajar. Meskipun bayi yang baru lahir membawa beberapa naluri
dan insting dan potensi-potensi, tetapi potensi tersebut tidak akan berkembang
dengan baik tanpa adanya pengaruh dari luar. Untuk itu manusia membutuhkan
belajar sepanjang kehidupannya, kapanpun dan dimanapun.
Pada intinya belajar itu memiliki beberapa manfaat bagi individu,
yaitu:
1. Belajar itu membawa perubahan
2. Perubahan itu ada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan
baru
3. Perubahan itu terjadi karena usaha
1. Fase perkembangan masa kanak-kanak
2. Fase perkembangan masa anak
3. Fase perkembangan masa remaja
4. Fase perkembangan masa dewasa awal
5. Fase perkembangan masa setengah baya
6. Fase perkembangan masa tua
Kita sebagai mahasiswa
tidak terlepas dari Perkembangan
belajar , oleh sebab itu kami sebagai pemakalah
mengharapkan kepada siding pembaca dengan adanya makalah ini semoga kita dapat
mengetahuai Perkembangan Individu Dalam
Konteks Belajar. Walaupun makalah ini jauh dari
kesempurnaan tetapi apabila kita membaca dan memahaminya, semoga banyak manfaat
yang dapat kita ambil.
DAFTAR PUSTAKA
AU. Zalyana, Psikologi
Pembelajaran Bahasa Arab (Pekanbaru : Al-Mujtahadah Press, 2010).
Tohirin, Psikologi
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006).
Sukmadinata. Nana Syaodih, Landasan psikologi proses pendidikan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya).
[1] Prof. Dr. Nana syaodih
sukmadinata, Landasan psikologi proses pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya), hlm. 113-114
[2] Dra. Hj. Zalyana, AU., M.Ag., Psikologi Pembelajaran Bahasa Arab,
(Pekanbaru: Al-Mujtahadah Press, 2010), hlm. 41-43.
[6] Drs. Tohirin, Ms., M.Pd., Psikologi
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2006), hlm.
38-47.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar