Assalamualaikum


counter

Selamat Datang

selamat datang


counter

Translate

Sabtu, 14 Desember 2013

Makalah Pergeseran Masyarakat dan Kebudayaan


BAB II
PEMBAHASAN

A.       Konsepsi-konsepsi Khusus mengenai Pergeseran Masyarakat dan Kebudayaan

Semua konsep yang diperlukan apabila ingin menganalisa proses-proses pergeseran masyarakat dan kebudayaan, termasuk lapangan penelitian ilmu antropologi dan sosiologi yang disebut dinamika social (social dynamics). Di antara konsep-konsep yang terpenting ada mengenai proses belajar kebudayaan oleh warga masyarakat bersangkutan, yaitu internilasasi (internilzation), sosialisasi (soscialization) dan enkulturasi (enculturation). Ada juga proses perkembangan kebudayaan umat manusia pada umumnya dan bentuk-bentuk kebudayaan yang sederhana, hingga bentuk-bentuk yang makin lama makin kompleks, yaitu evolusi kebudayaan (cultural evolution).

B.        Proses Belajar Kebudayaan Sendiri

1.         Proses Internalisasi
Proses internalisasi adalah proses panjang sejak seseorang individu dilahirkan sampai ia hampir meninggal. Individu belajar menanamkan dalam kepribadiannya segala perasaan, hasrat, napsu, dan emosi yang diperlukan sepanjang hidupnya.
Manusia mempunyai bakat yang telah terkandung dalam gennya untuk mengembangkan berbagai macam perasaan, hasrat, napsu, dan emosi dalam kepribadian individunya, tetapi wujud dan pengaktifan dari berbagai macam isi kepribadiannya itu sangat dipengaruhi oleh berbagai macam stimulasi yang berada dalam sekitaram alam dan lingkungan sosial maupun budayanya. Perasaan pertama yang diaktifkan dalam kepribadian seorang bayi saat dilahirkan adalah perasaan puas dan tidak puas. Lingkungan yang berbeda dengan kandungan ibu memberi pengalaman tidak puas yang pertama kepada si individu baru itu. Baru setelah ia dibungkus selimut dan diberi kesempatan untuk menyusu, maka rasa tidak puas itu hilang. Kemudian setiap kali ia terkena pengaruh-pengaruh lingkungan yang menyebabkan rasa tidak puas tadi ia akan menangis, tetapi setiap kali diberi selimut dan susu ( yang mendatangkan rasa puas tadi ) ia merasa nyaman. Secara sadar si bayi telah belajar untuk tidak hanya mengalami, tetapi juga mengetahui cara mendatangkan rasa puas, yaitu dengan menangis.
Tiap hari dalam hidupnya berlalu, bertambahlah pengalamannya mengenai bermacam-macam perasaan baru, dan belajarlah ia merasakan kegembiraan, kebahagiaan, simpati, cinta, benci, keamanan, harga diri, kebenaran, perasaan bersalah, dosa, malu dan sebagainya. Selain perasaan-perasaan tersebut, juga berbagai macam hasrat, seperti hasrat untuk mempertahankan hidup, bergaul, meniru, tahu, berbakti, keindahan, dipelajarinya melalui proses internalisasi menjadi bagian kepribadian individu.

Proses internalisasi, adalah proses yang berlangsung sepanjang hidup individu, yaitu mulai saat ia dilahirkan sampai akhir hayatnya. Sepanjang hayatnya seorang individu terus belajar untuk mengolah segala perasaan, hasrat, nafsu dan emosi yang membentuk kepribadiannya. Perasaan pertama yang diaktifkan dalam kepribadian saat bayi dilahirkan adalah rasa puas dan tidak puas, yang menyebabkan ia menangis.

2.         Proses Sosialisasi
Proses sosialisasi berkaitan dengan proses belajar kebudayaan dalam hubungan dengan sistem sosial. Dalam proses itu seorang individu dari masa anak-anak hingga masa tuanya belajar pola-pola tindakandalam interaksi dengan segala macam individu sekelilingnya yang menduduki beraneka macam peranan sosial yang mungkin ada dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai ilustrasi dari suatu proses sosialisasi, berikut ini subuah contoh dari pengalaman-pengalaman seorang bayi Indonesia dalam suatu keluarga golongan pegawai tinggi di kota.
Dari permulaan hidupnya si bayi sudah harus menghadapi beberapa individu dalam lingkungan yang keci, ialah ibunya, seorang bidan atau juru rawat yang membantu ibunya semenjak ia lahir hingga ia berumur kira-kira seminggu, ibu dari ibunya dan dari ayahnya. Dalam kontak dengan keempat orang tadi ia mengalami tingkah laku mereka yang berdasarkan perhatian dan cinta. Kemudian dia juga belajar kebiasaannya yang pertama ialah, makan dan tidur pada saat-saat yang tepat. Tidak lama kemudian dia mendapat perhatian dari kakak-kakaknya yang biasa berjumlah banyak. Selama tumbuhnya pada tahun-tahun pertama, kedua, dan ketiga dari hidupnya, dengan susah payah dan disertai banyak konflik, seorang anak harus menyesuaikan segala keinginan dirinya sendiri dengan tokoh-tokoh tadi. Hubungannya dengan lingkungan sosialnya menjadi lebih intensif bila ia mengembangkan bahasanya sehingga ia dapat menguraikan isi hatinya dengan lebih jelas dan dapat lebih mudah menerima maksud dan pendirian individu-individu lain.
Selama masa kanak-kanak tersebut dia juga berkenalan dengan tokoh-tokoh lain, yakni para paman dan bibinya, para tetangga serta kenalan-kenalan ayah-ibunya, dan karena rumah di Indonesia sering kali mempunyai halaman luas, maka dengan bermain-main bersama anak tetangganya di halaman dia mengalami suatu proses sosialisasi yang luas.
Ketika seorang anak mulai sekolah, dia mulai belajar mengenai perbedaan antara jenis kelamin pria dan wanita. Menginjak usia remaja,hasrat birahinya mulai berkembang. Untuk itu ia harus belajar menyesuaikan diri dengan segala aturan kebudayaan, adat istiadat yang ada di masyaakat.
Contoh lain dari suatu proses sosialisasi yang dialami oleh bayi yang diasuh dalam keluarga-keluarga dari berbagai suku bangsa di Irian Jaya. Disana bayi pada usia yang sangat muda sering kali sudah akan berhadapan dengan berbagai wanita lain selain ibunya, hal itu terjadi setelah ibu yang melahirkan bayi tersebut telah merasa kuat untuk bekerja kembali ke kebun ubi. Setiap hari ibu membawa bayinya untuk bekerja. Bayinya diikat dipunggung ibunya, dan slama waktu istirahat bayi itu selalu dikerumuni dan banyak mendapat perhatian dari pada wanita lain di kebun.
Demikianlah para individu dalam masyarakat yang berbeda akan mengalami proses sosialisasi yang berbeda pula karena proses sosialisasinya banyak ditentukan oleh susunan kebudayaan dan lingkungan sosial yang bersangkutan.
Proses sosialisasi, semua pola tindakan individu-individu yang menempati berbagai kedudukan dalam masyarakatnya yang dikumpai seseorang dalam kehidupannya sehari-hari sejak ia dilahirkan. Para individu dalam masyarakat yang berbeda-beda juga mengalami proses sosialisasi yang berbeda-beda, karena proses itu banyak ditentukan oleh susunan kebudayaan serta lingkungan sosial yang bersangkuan.
Penelitian dilapangan telah dapat menghasilkan pengumpulan bahan mengenai adat istiadat pengasuhan anak, kebiasaan-kebiasaan dalam kehidupan seksual, dan riwayat hidup yang rinci dari sejumlah individu. Individu-individu yang mengalami berbagai hambatan dalam proses internalisasi, sosialisasi atau enkulturasinya, sehingga individu seperti itu mengalami kesukaran dalam menyesuaikan kepribadiannya dengan lingkungan sosial sekitarnya.

3.         Proses Enkulturasi
Istilah yang sesuai untuk kata enkulturasi adalah pembudayaan (dalam bahasa inggris digunakan istilah institutionalization). Proses enkulturasi adalah proses seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat, system norma, dan peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Proses enkulturasi sudah dimulai sejak kecil dalam alam pikiraan warga suatu masyarakat; mula-mula dari orang-orang di dalam lingkungan keluarganya, kemudian dari teman-temannya bermain.
Proses Enkulturasi, dalam proses ini seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat-istiadat, system norma, serta peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Kata enkulturasi dalam bahasa Indonesia juga berarti “pembudayaan”. Seorang individu dalam hidupnya juga sering meniru dan membudayakan berbagai macam tindakan setelah perasaan dan nilai budaya yang memberi motivasi akan tindakan meniru itu telah diinternalisasikan dalam kepribadiannya.

C.       Proses Evolusi Sosial

            Proses Mikroskopik dan makroskopik dalam evolusi sosial, Proses evolusi dapat dianalisis secara mendetail (makroskopik) tetapi dapat dilihat secara keseluruh, dengan hanya memperhatikan perubahan-perubahan besar yang telah terjadi (makroskopik). Proses evolusi sosial budaya secara makroskopik yang terjadi dalam suatu jangka waktu yang panjang, dalam antropologi disebut “proses-proses pemberi arah”, atau directional  proses. Proses-prosesberulang dalam evolusi sosial budaya. Dalam antropologi, perhatian terhadap proses-proses berulang dalam evolusi sosial budaya baru timbul sekitar tahun 1920 bersama dengan perhatian terhadap individu dalam masyarakat.
            Dalam meneliti masalah ketegangan antara adat istiadat yang berlaku dengan kebutuhan yang dirasakan oleh beberapa individu dalam suatu masyarakat, perlu diperhatikan dua konsep yang berbeda, yaitu (1) kebudayaan sebagai kompleks dari komsep norma-norma, pandangan-pandangan, dan sebagainya, yang bersifat abstrak (yaitu system budaya), dan (2) kebudayaan sebagai serangkaian tindakan yang konkrit, dimana para individu saling berinteraksi (yaitu system sosial). Kedua system tersebut sering saling bertentangan, dan dengan mempelajari konflik-konflik yang ada dalam setiap masyarakat itulah dapat diperoleh pengertian mengenai dinamika masyarakat pada umumnya.


1.         Proses Microscopic dan Macroscopic dalam Evolusi Sosial
Proses evolusi dari suatu masyarakat dan kebudayaan dapat dianalisis oleh seorang peneliti seolah-olah dari dekat secara detail (microscopic), atau dapat juga dipandang seolah-olah dari jauh dengan hanya memperhatikan perubahan-perubahan yang tampak besar saja (macroscopic). Proses evolusi sosial budaya yang dianalisis secara detail akan membuka mata peneliti untuk berbagai macam proses perubahan yang terjadi dalam dinamika kehidupan sehari-hari tiap masyarakat di dunia. Proses-proses ini disebut dalam ilmu antropologi “proses-proses berulang” (recurrent processes). Proses-proses evolusi sosial budaya yang dipandang seolah-olah dari jauh hanya akan menampakkan kepada peneliti perubahan-perubahan besar yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Proses-proses ini disebut dalam ilmu antropologi, “proses-proses menentukan arah” (directional processes).

2.         Proses-proses Berulang dalam Evolusi Sosial Budaya
Perhatian terhadap proses- proses berulang dalam evolusi sosial budaya,belum lama mendapat perhatian dari ilmu antropologi. Sikap, perasaan, dan tingkah laku khusus para individu dalam masyarakat yang mungkin bertentangan dengan adat istiadat yang lazim,diabaikan saja untuk tidak mendaat perhatian  layak. Dengan demikian, kalau seorang antropologi misalnya harus menulis tentang adat istiadat perkawinan orang bali, ia hanya akan mengumpulkan keterangan tentang hal yang lazim dilakukan di dalam perkawinan-perkawnan orang bali itu. Upacara, aktivitas, dan khusus,biasanya di abaikan atau kurang di perhatikan. Sikap individu yang hidup dalam banyak masyarakat terutama adalah mngingat keperluan diri-sendiri;dengan demikian ia dapat mungkin akan mencoba menghindari adat atau aturan bila tidak cocok dengan keperluan pribadian. Contoh:
Adat minang kabau mewajibkan seorang pria harus mewariskan harta miliknya kepada kemenakannya, yaitu anak dari saudara perempuannya. Ada seorang Adi yang mengabaikan adat ini dan mewariskan harta miliknya kepada anak nya sendiri. Tentu para kemenakan tidak puas, dan akan mengadukan soal itu kepada kepala adat. Mengingat pengaruh dari besar dari Adi, kepala adat yang berlaku sebagai hakim akan membuat suatu keputusan hukum adat yang membenarkan perbuatan Adi.
 
3.         Proses Mengarah dalam Evolusi Kebudayaan
Kalau evolusi masyarakat dan kebudayaan kita pandang seolah-olah dari suatu jarak yang jauh, dengan mengambi interval waktu yang panjang ( misalnya beberapa ribu tahu ), maka akan tampak perubahan-perubahan besar yang seolah-olah bersifat menentukan arah (directional) dari sejarah perkembangan masyarakat dan kebudayaa yang bersangkutan. Pada masa sekarang, gejala ini menjadi perhatian khusus dari suatu subilmu dengan antropologi, yaitu ilmu prehistori.
Ilmu ini mempelajari sejarah perkembangan kebudayaan manusia dalam jangka waktu yang panjang dan juga oleh para sarjana ilmu sejarah yang mencoba merekonstruksi kembali sejarah perkembangan seluruh umat manusia dan harus juga bekerja dengan jangka waktu yang panjang.

BAB III
PENUTUP
1.1     Kesimpulan
Antropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia dalam keberagaman masyarakat, suku dan adat istiadat. Di dalam dinamika masyarakat dan kebudayaan mempelajari tentang konsep-konsep khusus mengenai pergeseran masyarakat dan kebudayaan, Proses belajar kebudayaan sendiri, proses evolusi sosial. Dalam proses mempelajari kebudayaan kita akan melalui tahap demi tahap yang diawali sejak kita dilahirkan hingga sampai kita hampir meninggal.

1.2     Saran
Kita sebagai mahasiswa tidak terlepas dari dinamika masyarakat dan kebudayaan, oleh sebab itu kami sebagai pemakalah mengharapkan kepada siding pembaca dengan adanya makalah ini semoga kita dapat mengetahuai dinamika masyarakat dan kebudayaan. Dan semoga kita juga dapat memahami pergeseran masyarakat dan proses proses belajar kebudayaan sendiri.Walaupun makalah ini jauh dari kesempurnaan tetapi apabila kita membaca dan memahaminya, semoga sangat banyak manfaat yang dapat kita ambil.      

DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar