BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konsepsi-konsepsi
Khusus mengenai Pergeseran Masyarakat dan Kebudayaan
Semua
konsep yang diperlukan apabila ingin menganalisa proses-proses pergeseran
masyarakat dan kebudayaan, termasuk lapangan penelitian ilmu antropologi dan
sosiologi yang disebut dinamika social (social
dynamics). Di antara konsep-konsep yang terpenting ada mengenai proses
belajar kebudayaan oleh warga masyarakat bersangkutan, yaitu internilasasi (internilzation), sosialisasi
(soscialization) dan enkulturasi (enculturation). Ada juga proses perkembangan
kebudayaan umat manusia pada umumnya dan bentuk-bentuk kebudayaan yang
sederhana, hingga bentuk-bentuk yang makin lama makin kompleks, yaitu evolusi
kebudayaan (cultural evolution).
B.
Proses
Belajar Kebudayaan Sendiri
1.
Proses
Internalisasi
Proses
internalisasi adalah proses panjang sejak seseorang individu dilahirkan sampai
ia hampir meninggal. Individu belajar menanamkan dalam kepribadiannya segala
perasaan, hasrat, napsu, dan emosi yang diperlukan sepanjang hidupnya.
Manusia
mempunyai bakat yang telah terkandung dalam gennya untuk mengembangkan berbagai
macam perasaan, hasrat, napsu, dan emosi dalam kepribadian individunya, tetapi
wujud dan pengaktifan dari berbagai macam isi kepribadiannya itu sangat
dipengaruhi oleh berbagai macam stimulasi yang berada dalam sekitaram alam dan
lingkungan sosial maupun budayanya. Perasaan pertama yang diaktifkan dalam
kepribadian seorang bayi saat dilahirkan adalah perasaan puas dan tidak puas.
Lingkungan yang berbeda dengan kandungan ibu memberi pengalaman tidak puas yang
pertama kepada si individu baru itu. Baru setelah ia dibungkus selimut dan
diberi kesempatan untuk menyusu, maka rasa tidak puas itu hilang. Kemudian
setiap kali ia terkena pengaruh-pengaruh lingkungan yang menyebabkan rasa tidak
puas tadi ia akan menangis, tetapi setiap kali diberi selimut dan susu ( yang
mendatangkan rasa puas tadi ) ia merasa nyaman. Secara sadar si bayi telah
belajar untuk tidak hanya mengalami, tetapi juga mengetahui cara mendatangkan
rasa puas, yaitu dengan menangis.
Tiap
hari dalam hidupnya berlalu, bertambahlah pengalamannya mengenai bermacam-macam
perasaan baru, dan belajarlah ia merasakan kegembiraan, kebahagiaan, simpati,
cinta, benci, keamanan, harga diri, kebenaran, perasaan bersalah, dosa, malu
dan sebagainya. Selain perasaan-perasaan tersebut, juga berbagai macam hasrat,
seperti hasrat untuk mempertahankan hidup, bergaul, meniru, tahu, berbakti,
keindahan, dipelajarinya melalui proses internalisasi menjadi bagian
kepribadian individu.
Proses
internalisasi, adalah proses yang berlangsung sepanjang hidup individu, yaitu
mulai saat ia dilahirkan sampai akhir hayatnya. Sepanjang hayatnya seorang
individu terus belajar untuk mengolah segala perasaan, hasrat, nafsu dan emosi
yang membentuk kepribadiannya. Perasaan pertama yang diaktifkan dalam
kepribadian saat bayi dilahirkan adalah rasa puas dan tidak puas, yang
menyebabkan ia menangis.
2.
Proses
Sosialisasi
Proses
sosialisasi berkaitan dengan proses belajar kebudayaan dalam hubungan dengan
sistem sosial. Dalam proses itu seorang individu dari masa anak-anak hingga
masa tuanya belajar pola-pola tindakandalam interaksi dengan segala macam
individu sekelilingnya yang menduduki beraneka macam peranan sosial yang
mungkin ada dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai ilustrasi dari suatu proses
sosialisasi, berikut ini subuah contoh dari pengalaman-pengalaman seorang bayi
Indonesia dalam suatu keluarga golongan pegawai tinggi di kota.
Dari
permulaan hidupnya si bayi sudah harus menghadapi beberapa individu dalam
lingkungan yang keci, ialah ibunya, seorang bidan atau juru rawat yang membantu
ibunya semenjak ia lahir hingga ia berumur kira-kira seminggu, ibu dari ibunya
dan dari ayahnya. Dalam kontak dengan keempat orang tadi ia mengalami tingkah
laku mereka yang berdasarkan perhatian dan cinta. Kemudian dia juga belajar
kebiasaannya yang pertama ialah, makan dan tidur pada saat-saat yang tepat.
Tidak lama kemudian dia mendapat perhatian dari kakak-kakaknya yang biasa
berjumlah banyak. Selama tumbuhnya pada tahun-tahun pertama, kedua, dan ketiga
dari hidupnya, dengan susah payah dan disertai banyak konflik, seorang anak
harus menyesuaikan segala keinginan dirinya sendiri dengan tokoh-tokoh tadi.
Hubungannya dengan lingkungan sosialnya menjadi lebih intensif bila ia
mengembangkan bahasanya sehingga ia dapat menguraikan isi hatinya dengan lebih
jelas dan dapat lebih mudah menerima maksud dan pendirian individu-individu
lain.
Selama
masa kanak-kanak tersebut dia juga berkenalan dengan tokoh-tokoh lain, yakni
para paman dan bibinya, para tetangga serta kenalan-kenalan ayah-ibunya, dan
karena rumah di Indonesia sering kali mempunyai halaman luas, maka dengan
bermain-main bersama anak tetangganya di halaman dia mengalami suatu proses
sosialisasi yang luas.
Ketika
seorang anak mulai sekolah, dia mulai belajar mengenai perbedaan antara jenis
kelamin pria dan wanita. Menginjak usia remaja,hasrat birahinya mulai
berkembang. Untuk itu ia harus belajar menyesuaikan diri dengan segala aturan
kebudayaan, adat istiadat yang ada di masyaakat.
Contoh
lain dari suatu proses sosialisasi yang dialami oleh bayi yang diasuh dalam
keluarga-keluarga dari berbagai suku bangsa di Irian Jaya. Disana bayi pada
usia yang sangat muda sering kali sudah akan berhadapan dengan berbagai wanita
lain selain ibunya, hal itu terjadi setelah ibu yang melahirkan bayi tersebut
telah merasa kuat untuk bekerja kembali ke kebun ubi. Setiap hari ibu membawa
bayinya untuk bekerja. Bayinya diikat dipunggung ibunya, dan slama waktu
istirahat bayi itu selalu dikerumuni dan banyak mendapat perhatian dari pada
wanita lain di kebun.
Demikianlah
para individu dalam masyarakat yang berbeda akan mengalami proses sosialisasi
yang berbeda pula karena proses sosialisasinya banyak ditentukan oleh susunan
kebudayaan dan lingkungan sosial yang bersangkutan.
Proses
sosialisasi, semua pola tindakan individu-individu yang menempati berbagai
kedudukan dalam masyarakatnya yang dikumpai seseorang dalam kehidupannya
sehari-hari sejak ia dilahirkan. Para individu dalam masyarakat yang
berbeda-beda juga mengalami proses sosialisasi yang berbeda-beda, karena proses
itu banyak ditentukan oleh susunan kebudayaan serta lingkungan sosial yang
bersangkuan.
Penelitian
dilapangan telah dapat menghasilkan pengumpulan bahan mengenai adat istiadat
pengasuhan anak, kebiasaan-kebiasaan dalam kehidupan seksual, dan riwayat hidup
yang rinci dari sejumlah individu. Individu-individu yang mengalami berbagai
hambatan dalam proses internalisasi, sosialisasi atau enkulturasinya, sehingga
individu seperti itu mengalami kesukaran dalam menyesuaikan kepribadiannya
dengan lingkungan sosial sekitarnya.
3.
Proses
Enkulturasi
Istilah
yang sesuai untuk kata enkulturasi adalah pembudayaan (dalam bahasa inggris
digunakan istilah institutionalization). Proses enkulturasi adalah proses
seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan
adat, system norma, dan peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Proses
enkulturasi sudah dimulai sejak kecil dalam alam pikiraan warga suatu
masyarakat; mula-mula dari orang-orang di dalam lingkungan keluarganya,
kemudian dari teman-temannya bermain.
Proses
Enkulturasi, dalam proses ini seorang individu mempelajari dan menyesuaikan
alam pikiran serta sikapnya dengan adat-istiadat, system norma, serta
peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Kata enkulturasi dalam
bahasa Indonesia juga berarti “pembudayaan”. Seorang individu dalam hidupnya
juga sering meniru dan membudayakan berbagai macam tindakan setelah perasaan
dan nilai budaya yang memberi motivasi akan tindakan meniru itu telah
diinternalisasikan dalam kepribadiannya.
C.
Proses
Evolusi Sosial
Proses
Mikroskopik dan makroskopik dalam evolusi sosial, Proses evolusi dapat
dianalisis secara mendetail (makroskopik) tetapi dapat dilihat secara
keseluruh, dengan hanya memperhatikan perubahan-perubahan besar yang telah
terjadi (makroskopik). Proses evolusi sosial budaya secara makroskopik yang
terjadi dalam suatu jangka waktu yang panjang, dalam antropologi disebut
“proses-proses pemberi arah”, atau directional
proses. Proses-prosesberulang dalam evolusi sosial budaya. Dalam
antropologi, perhatian terhadap proses-proses berulang dalam evolusi sosial
budaya baru timbul sekitar tahun 1920 bersama dengan perhatian terhadap
individu dalam masyarakat.
Dalam meneliti masalah ketegangan antara adat istiadat
yang berlaku dengan kebutuhan yang dirasakan oleh beberapa individu dalam suatu
masyarakat, perlu diperhatikan dua konsep yang berbeda, yaitu (1) kebudayaan
sebagai kompleks dari komsep norma-norma, pandangan-pandangan, dan sebagainya,
yang bersifat abstrak (yaitu system budaya), dan (2) kebudayaan sebagai
serangkaian tindakan yang konkrit, dimana para individu saling berinteraksi
(yaitu system sosial). Kedua system tersebut sering saling bertentangan, dan
dengan mempelajari konflik-konflik yang ada dalam setiap masyarakat itulah
dapat diperoleh pengertian mengenai dinamika masyarakat pada umumnya.
1.
Proses
Microscopic dan Macroscopic dalam Evolusi Sosial
Proses
evolusi dari suatu masyarakat dan kebudayaan dapat dianalisis oleh seorang
peneliti seolah-olah dari dekat secara detail (microscopic), atau dapat juga
dipandang seolah-olah dari jauh dengan hanya memperhatikan perubahan-perubahan
yang tampak besar saja (macroscopic). Proses evolusi sosial budaya yang
dianalisis secara detail akan membuka mata peneliti untuk berbagai macam proses
perubahan yang terjadi dalam dinamika kehidupan sehari-hari tiap masyarakat di
dunia. Proses-proses ini disebut dalam ilmu antropologi “proses-proses
berulang” (recurrent processes).
Proses-proses evolusi sosial budaya yang dipandang seolah-olah dari jauh hanya
akan menampakkan kepada peneliti perubahan-perubahan besar yang terjadi dalam
jangka waktu yang panjang. Proses-proses ini disebut dalam ilmu antropologi,
“proses-proses menentukan arah” (directional
processes).
2.
Proses-proses
Berulang dalam Evolusi Sosial Budaya
Perhatian
terhadap proses- proses berulang dalam evolusi sosial budaya,belum lama
mendapat perhatian dari ilmu antropologi. Sikap, perasaan, dan tingkah laku
khusus para individu dalam masyarakat yang mungkin bertentangan dengan adat
istiadat yang lazim,diabaikan saja untuk tidak mendaat perhatian layak. Dengan demikian, kalau seorang
antropologi misalnya harus menulis tentang adat istiadat perkawinan orang bali,
ia hanya akan mengumpulkan keterangan tentang hal yang lazim dilakukan di dalam
perkawinan-perkawnan orang bali itu. Upacara, aktivitas, dan khusus,biasanya di
abaikan atau kurang di perhatikan. Sikap individu yang hidup dalam banyak
masyarakat terutama adalah mngingat keperluan diri-sendiri;dengan demikian ia
dapat mungkin akan mencoba menghindari adat atau aturan bila tidak cocok dengan
keperluan pribadian. Contoh:
Adat
minang kabau mewajibkan seorang pria harus mewariskan harta miliknya kepada
kemenakannya, yaitu anak dari saudara perempuannya. Ada seorang Adi yang
mengabaikan adat ini dan mewariskan harta miliknya kepada anak nya sendiri.
Tentu para kemenakan tidak puas, dan akan mengadukan soal itu kepada kepala
adat. Mengingat pengaruh dari besar dari Adi, kepala adat yang berlaku sebagai
hakim akan membuat suatu keputusan hukum adat yang membenarkan perbuatan Adi.
3.
Proses Mengarah
dalam Evolusi Kebudayaan
Kalau
evolusi masyarakat dan kebudayaan kita pandang seolah-olah dari suatu jarak
yang jauh, dengan mengambi interval waktu yang panjang ( misalnya beberapa ribu
tahu ), maka akan tampak perubahan-perubahan besar yang seolah-olah bersifat
menentukan arah (directional) dari
sejarah perkembangan masyarakat dan kebudayaa yang bersangkutan. Pada masa
sekarang, gejala ini menjadi perhatian khusus dari suatu subilmu dengan
antropologi, yaitu ilmu prehistori.
Ilmu ini
mempelajari sejarah perkembangan kebudayaan manusia dalam jangka waktu yang
panjang dan juga oleh para sarjana ilmu sejarah yang mencoba merekonstruksi
kembali sejarah perkembangan seluruh umat manusia dan harus juga bekerja dengan
jangka waktu yang panjang.
BAB
III
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Antropologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang manusia dalam keberagaman masyarakat, suku dan adat
istiadat. Di dalam dinamika masyarakat dan kebudayaan mempelajari tentang
konsep-konsep khusus mengenai pergeseran masyarakat dan kebudayaan, Proses
belajar kebudayaan sendiri, proses evolusi sosial. Dalam proses mempelajari
kebudayaan kita akan melalui tahap demi tahap yang diawali sejak kita
dilahirkan hingga sampai kita hampir meninggal.
1.2 Saran
Kita sebagai
mahasiswa tidak terlepas dari dinamika masyarakat dan kebudayaan, oleh sebab
itu kami sebagai pemakalah mengharapkan kepada siding pembaca dengan adanya
makalah ini semoga kita dapat mengetahuai dinamika masyarakat dan kebudayaan.
Dan semoga kita juga dapat memahami pergeseran masyarakat dan proses proses
belajar kebudayaan sendiri.Walaupun makalah ini jauh dari kesempurnaan tetapi
apabila kita membaca dan memahaminya, semoga sangat banyak manfaat yang dapat
kita ambil.
DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta:
Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar