Assalamualaikum


counter

Selamat Datang

selamat datang


counter

Translate

Sabtu, 14 Desember 2013

Pengertian Akunting


AKUNTING 
    1.    Pentingnya Akunting
Akunting adalah suatu kegiatan yang sangat penting yang turut pula menentukan keberhasilan usaha bisnis. Akunting merupakan suatu karir yang bertumbuh pesat dan disenangi orang pada saat ini. Dengan akunting pengusaha akan dapat mengetahui secara benara berapa banyak pajak harus dibayar, berapa uang yang harus dipinjam, apakah investasi yang dilakukan sudah benar, dan apakah diperoleh keuntungan normal, dan sebagainya.
Setiap bisnis pada akhir tiap tahun sekurang-kurangnya menyiapkan dua laporan keuangan yaitu laporan keuangan dan laporan pendapatan. Laporan ini berasal dari ribuan transaksi yang terjadi dalam kegiatan bisnis sehari-hari, baik dihitung dalam uang ataupun dihitung dalam jumlah satuan barang. Laporan keuangan pada prinsipnya hamper sama dari tiap perusahaan, apakah perusahaan kecil ataukah perusahaan besar.

    2.    Pengertian Akunting
Yang dimaksud dengan akunting adalah kegiatan proses yang sistematis dalam mengumpulkan data, menganalisa, dan melaporkan informasi tentang keuangan. Pekerjaan akunting telah dilakukan perusahaan sejak berabad-abad yang lalu yaitu sejak tahun 1494 oleh seorang italia bernama POCIOLO. Sedangkan diamerika serikat sudah dimulai sejak tahin 1887. Tahun 1900 an pengajaran akuntansi diajarkan di bannyak perguruan tinggi. Sekarang pengajaran akunting sudah meluas sangat pesat sekali.

    3.    Akunting atau Bookkeeping
Pekerjaan akunting menyangkut keseluruhan system yang menyiapkan informasi keuangan secara tepat dan mutakhir mulai dari system disainnya, menjalankannya, sampai keinterpretasi informasi yang diperoleh. Untuk menjadi seorang akuntan seseorang harus mempelajarinya bertahun-tahun dan praktek mencari pengalaman.

Ø Bookkeeping
Bookkeeping adalah pekerjaan mencatat kejadian-kejadian setiap hari, dan merupakan bagian penting ari akunting. Bookkeeper ialah orang yang bertanggung jawab memperoleh data keuangan. Bookkeeper adalah pekerjaan Clerical, dan sekarang pekerjaan ini banyak mendapat bantuan computer. Biasanyapekerjaan bookkeeper di awasi atau dibimbing oleh akuntan.
    4.    Siapa yang memerlukan informasi akunting
Orang yang paling berkepentingan dengan informasi akunting ialah para manajer perusahaan. Manajer dapat memperoleh segala data yang ia perlukan mengenai perusahaannya yaitu menyangkut penghasilan, biaya, utang-utang, piutang, keuntungan, dan sebagainya.
Orang atau lembaga lain yang berkepentingan dengan informasi akunting ialah perbankan, guna menetapkan kebijaksanaan perkreditannya, juga apa yang disebut securities industry, guna menentukan jumlah saham atau obligasi yang akan dijual atau dibeli. Juga pemerintah untuk melihat kegiatan perusahaan dalam daerah pemerintahannya, untuk melihat kemajuan penerimaan pajak, perlindungan nasib pegawai. Organisasi buruh, ingin melihat informasi keuangan guna menetapkan perlindungan kenaikan gaji. Dan yang terpenting ialah bagi para pemilik atau pemegang saham sendiri.

    5.    Proses Akunting
Akunting ialah merupakan suatu proses transformasi data mentah menjadi informasi keuangan yang berguna.
Ø  Persamaan akunting ( The accounting Equation)
Untuk mengerti bagaimana caranya kerja akunting modern maka kita harus mengerti persamaan akunting dan bagaimana transaksi dicatat di dalam system. Persamaan akunting, berbentuk laporan sederhana, yang merupakan bentuk dasar dari proses akunting. Ini merupakan hubungan antara asset, liabilities dan owner’s equity.
·         Asset ialah harta yang dimiliki oleh perusahaan.
·          Liabilities ialah kewajiban perusahaan, yang ia pinjam dari orang lain.
·         Owner’s equity ialah perbedaan diantara asset dan liabilities.
Ø  Asset
Harta atau asset dapat dibagi menjadi Current assets dan fixed assets. Juga dapat dibedakan tangible assets dan intangible assets.
Current assets ialah uang tunai atau assets lainnya yang cepat dapat ditukarkan dengan uang atau yang hanya digunakan dalam waktu 1 tahun. Uang kas adalah harta yang paling likuid, tingkat pertama dalam harta.
Fixed assets ialah assets yang berjangka hidup lama atau permanen. Assets itu tidak akan dijual selama perusahaan berdiri, seperti tanah tempat kediaman, bangunan, mesin, dan perlengkapan, atau assets yang tahan selama waktu sekurang-kurangnya 1 tahun. Nilai assets akan berkurang melalui penyusutan yang dilakukan setiap tahun.
Intangible assets. Assets ini tidak kelihatan secara fisik, tetapi mempunyai nilai berdasarkan undang-undang, atau mendatangkan keuntungan bagi perusahaan. Misalnya hak paten, hak copy, cap dagang, goodwill. Ini termasuk assets berjangka lama.

Ø  Liabilities
Liabilities juga dibagi atas dua bagian yaitu Current liabilities dan long term liabilities.

·         Current liabilities ialah utang perusahaan yang harus dibayar dalam tempo satu tahun. Bentuk umum dari liabilities jenis ini ialah accounts payable dan notes payable.
-          Account payable terjadi karena pembelian yang dibayar dibelakang, misalnya membeli keperluan kantor sekarang dan pembayarannya tiga bulan kemudian. Transaksi ini dibukukan dalam rekening Accounts payable.
-          Notes Payable, sama halnya pada accounts payable, tetapi perusahaan menandatangani suatu pengakuan berutang dan jelas jatuh temponya.

·         Long term liabilities, merupakan utang perusahaan yang harus dibayar diatas satu tahun, misalnya utang bank yang berjangka lebih dari satu tahun.

Ø  Owners’ equity
Owners’ equity ini terbagi atas 3 bagian yaitu common stock, preferred stock, dan retained earnings, yaitu saham umum, saham preferen dan laba yang ditahan.
·         common stock dan preferred stock ialah jumlah uang yang ditanam dalam perusahaan oleh para pembeli saham, sedangkan retained earnings ialah jumlah uang komulatif setelah pembayaran dividen dan pajak yang masih tersisa di dalam perusahaan.

    6.    Income Statement
Neraca perusahaan ialah gambaran singkat dari asset perusahaan, utang dan modal sendiri pada saat tertentu. Income statement ialah catatan semua penghasilan dan biaya yang terjadi pada selang waktu tertentu. Ini menunjukkan berapa jumlah uang yang diperoleh dan berapa yang hilang atau dihabiskan selama waktu tertentu. Umumnya income statement dibuat dalam waktu satu tahun sekali. Pada bagian bawah income statement dapat dilihat hasil usaha perusahaan, apakah ada laba atau rugi.
Ø  Revenues
Adalah jumlah uang yang diterima oleh perusahaan dari penjualan produknya. Ini dimulai dari penjualan bruto atau gross sales, yaitu jumlah barang yang terjual pada periode tertentu.  Disini diperhitungkan jumlah barang yang dikembalikan, dan reduksi harga sisanya ialah penjualan netto.
Ø  Cost of goods sold
Jumlah uang dikeluarkan oleh perusahaan untuk membeli barang yang akan dijualnya dinamakan cost of goods sold. Perdagangan eceran dan grosir menggunakan perhitungan yang sama mengenai cost of goods sold.

    7.    Penilaian Persediaan Barang
Dalam menyusun income statement, akuntan tidak dapat menghitung pendapatan bersih perusahaan tanpa menghitung harga pokok barang yang terjual. Untuk menghitung harga pokok barang, harus dihitung niai persediaaan akhir barang yang ada. Ada dua metode yang umum digunakan untuk menilai persediaan ini yaitu metode FIFO dan LIFO. Metode ini terasa penting, jika perusahaan menjual barang yang dibeli dengan harga berbeda.
Ø  FIFO ( First In First Out )
Metode FIFO digunakan dengan anggapan bahwa barang yang pertama masuk ke dalam rak toko adalah yang harus pertama kali dijual, atau harus dijual terlebih dahulu. Dan yang masuk kemudian dijualnya pun kemudian juga. Artinya adalah barang yang ada pada akhir tahun adalah barang yang dibeli terakhir.
Ø  LIFO ( Last In First Out
Model LIFO ini beranggapan bahwa barang yang pertama dijual, artinya harga penjualan barang ditentukan oleh harga barang yang terakhir dibeli. Jadi jika ada barang yang tersisa pada akhir tahun, maka barang tersebut dinilai sehharga dengan harga barang yang terakhir.
Metode Fifo dan Lifo dipakai baik untuk menilai persediaan akhir maupun untuk pemakaian bahan untuk proses produksi.

    8.    Bagaimana Menginterpretasikan Laporan Keuangan
Sekarang anda sudah mengetahui perbedaan antara neraca dan income statement. Pertanyaan berikut ialah bagaimana menginterpretasikan laporan, agar dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas tentang keadaan perusahaan. Apakah perusahaan sudah baik jalannya dan apakah lebih kuat dalam menghadapi dunia persaingan. Jawabannya dapat dilihat dari laporan keuangan neraca dan income statement. Ada dua cara yang mendasar yang dapat digunakan yaitu analisa komparatif dan analisa rasio.

    9.    Analisa Komparatif
Analisa komparatif dimaksudkan membandingkan neraca tahun ini dengan neraca tahun yang lalu, Kemudian dilihat perbedaan-perbedaan yang terjadi, dan diteliti apakah perubahaan tersebut menjadikan posisi perusahaan lebih baik atau lebih buruk. Banyak perusahaan membuat perbandingan neraca tahun ini dengan neraca 9 tahun yang lalu, sehingga para pembaca dapat membandingkannya secara langsung.

    10.        Analisa Ratio
Keadaan perusahaan juga dapat dianalisa dari ratio, yang dilihat dari neraca dan income statementnya. Analisa dapat pula dibandingkan antara perusahaan sejenis dan dapat dibandingkan dengan keadaan tahun lalu.
Ø  Analisa Current Position
Analisa Current Position menyatakan kepada kita apakah perusahaan mampu melunasi utang-utang jangka pendeknya. Ratio yang penting disini ialah apa yang disebut current ratio, yang dihitung dengan cara membagi total current assets dengan total current liabilities.
Ø  Acid test atau quik ratio
Di dalam current ratio di atas, dalam perhitungannya dimasukkan semua bentuk uang jangka pendek dan harta jangka pendek.

Ø  Ratio utang dengan Modal sendiri
Ratio ini dicari dengan membagi jumlah utang dengan modal sendiri. Modal sendiri ini diperoleh dengan mengurangi seluruh harta dengan seluruh utang.
Ø  Analisa Keuntungan
Analisa rasio ini biasanya digunakan oleh orang yang akan menginvestasikan uangnya di perusahaan. Makin banyak keuntungan yang diperoleh dilihat dari tiap aham, maka menarik para investor.

Contoh Esai


MARAKNYA KASUS KORUPSI DI INDONESIA

Indonesia merupakan suatu negara dengan jumlah penduduk terpadat nomor tiga setelah RRC dan India. Indonesia juga terletak dilokasi yang strategis tepat di garis khatulistiwa yang mana seharusnya bangsa Indonesia makmur karena merupakan daerah yang kaya dengan sumber daya alamnya, namun apa yang kita lihat pada saat ini yang mana Indonesia sudah merdeka sejak 67 tahun yang lalu tetapi tetap saja banyak bangsa Indonesia yang masih miskin. Penyebab ketertinggalan bangsa Indonesia ialah akibat ilmu pengetahuan dan teknologi yang digunakan untuk mengelola sumber daya tersebut masih kurang, dan salah satu penyebanya lagi ialah kasus korupsi yang semakin merajalela di Indonesia ini, yang mana uang korupsi seharusnya dipergunakan untuk pembangunan-pembangunan dan pemberdayaan masyarakat yang kurang mampu malah lenyap dicurik para koruptor.
             Kasus korupsi di Indonesia merupakan suatu masalah yang sudah membudaya sejak dulu hingga sekarang, dapat kita ketahui sejak beberapa puluh tahun yang lalu kita “dibiasakan” dengan berita kasus korupsi. Mengapa saya katakan “dibiasakan”? Karena memang sejak dulu hingga pekan terakhir ini di media cetak maupun elektronik sering sekali kita jumpai berita tentang kasus korupsi  yang selalu membuat setiap orang merasa hatinya terluka dan kecewa. Bukan hanya kecewa dengan mental para pejabat bangsa namun juga kecewa atas buruknya sistem pengawasan atas pelaksanaan operasional sebuah negara. Jika korupsi telah menjadi suatu budaya maka alat untuk menyerangnya berupa tatanan hukum yang keras menjadi kurang berarti. Hukum akhirnya hanya mememilki kukuatan di atas kertas yang tidak memilki daya apapun untuk mencegah dan menghukum perbuatan korupsi. Hal ini karena sebagian besar orang Indonesia sudah terlanjur merasa enak dengan korupsi. Hukum tidak mencerminkan niat dan kehendak bangsa ini, namun korupsi telah mendarah daging.
Secara fakta yang kita ketahui kasus korupsi akhir-akhir ini seperti masalah Bank Century, Kasus ini merupakan suatu masalah yang sampai akhir ini belum kunjung selesai, ini menunjukkan bahwa penanganan kasus korupsi di negeri kita ini masih sangat lemah dan bahkan paling ironisnya yaitu mereka yang menangani kasus korupsi tersebut malah ikut-ikutan korupsi. Sungguh sangat memalukan sekali dan bahkan sampai sekarang juga masih banyak kasus korupsi di negeri kita ini yang masih  belum terungkap. Sepanjang tahun ini saja setidaknya ada 4.487 pejabat daerah yang terseret kasus korupsi, paling banyak dari kalangan anggota DPRD provinsi sebanyak 2.545 orang sedangkan di tingkat eksekutif berjumlah 290 orang. Kasus seperti ini tidak hanya terjadi di tahun ini tetapi hampir setiap tahun kasus korupsi di DPRD provinsi sering terjadi apalagi setelah berlakunya otonomi daerah. Jumlah aparatur pemerintah daerah yang diduga terlibat kasus korupsi saat ini ada 1.221 orang, yang berstatus tersangka 185 orang, terdakwa 112 orang, terpidana 877 orang, sedangkan yang masih sebatas saksi berjumlah 46 orang.
Korupsi juga telah dilakukan secara turun temurun. Bukan hanya turun temurun, anak-anak yang dilahirkan bukan dari orang tua yang korup pun bisa menjadi koruptor, apalagi jika anak itu lahir dari orang tua yang korup. Para orang tua pun bangga sekali jika melihat anaknya sukses dari sisi materi tanpa melihat bahwa uang yang mereka dapatkan itu berasal dari rezeki yang tidak halal.
Rasa malu yang telah hilang dari otak mereka membawa mereka pada rasa bangga melakukan korupsi. Bangga memiliki kekayaan yang berlebih. Bangga karena memiliki ini dan itu dan setumpuk kemewahan lainnya. Bangga karena tidak ketahuan, padahal semuanya itu didapatkan dari korupsi. Mereka memang menyadari bahwa itu merupakan dosa dan merugikan orang banyak, namun mereka sama sekali tidak menghiraukannya.
Sangat memalukan dan menyedihkan , Bangsa  kita yang seharusnya nyaman dan makmur malah membuat rakyat yang miskin semakin bertambah miskin dan juga  semakin memperburuk citra Indonesia di mata dunia sehingga secara tidak langsung juga mempengaruhi tingkat kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Akhirnya dapat kita simpulkan bahwa kasus korupsi yang terjadi di Indonesia ini merupaka suatu masalah yang tidak asing lagi di dengar, karena merupakan suatu masalah yang sudah lama dan dilakukan secara turun temurun yang membuat negara kita tercemar di mata dunia. Dan sudah selayaknya semua pihak yang bertanggung jawab akan hal tersebut bahu-membahu bekerja sama dengan penuh kesadaran agar terciptanya kesejahteraan dan kemakmuran di negara yang kita cintai ini.  tindakan yang tegas dan jujur harus dilakukan dengan serius. Sanksi tegas terhadap pihak terkait yang melakukan korupsi sudah selayaknya segera dilakukan demi sejahteranya negara kita.

Makalah Pergeseran Masyarakat dan Kebudayaan


BAB II
PEMBAHASAN

A.       Konsepsi-konsepsi Khusus mengenai Pergeseran Masyarakat dan Kebudayaan

Semua konsep yang diperlukan apabila ingin menganalisa proses-proses pergeseran masyarakat dan kebudayaan, termasuk lapangan penelitian ilmu antropologi dan sosiologi yang disebut dinamika social (social dynamics). Di antara konsep-konsep yang terpenting ada mengenai proses belajar kebudayaan oleh warga masyarakat bersangkutan, yaitu internilasasi (internilzation), sosialisasi (soscialization) dan enkulturasi (enculturation). Ada juga proses perkembangan kebudayaan umat manusia pada umumnya dan bentuk-bentuk kebudayaan yang sederhana, hingga bentuk-bentuk yang makin lama makin kompleks, yaitu evolusi kebudayaan (cultural evolution).

B.        Proses Belajar Kebudayaan Sendiri

1.         Proses Internalisasi
Proses internalisasi adalah proses panjang sejak seseorang individu dilahirkan sampai ia hampir meninggal. Individu belajar menanamkan dalam kepribadiannya segala perasaan, hasrat, napsu, dan emosi yang diperlukan sepanjang hidupnya.
Manusia mempunyai bakat yang telah terkandung dalam gennya untuk mengembangkan berbagai macam perasaan, hasrat, napsu, dan emosi dalam kepribadian individunya, tetapi wujud dan pengaktifan dari berbagai macam isi kepribadiannya itu sangat dipengaruhi oleh berbagai macam stimulasi yang berada dalam sekitaram alam dan lingkungan sosial maupun budayanya. Perasaan pertama yang diaktifkan dalam kepribadian seorang bayi saat dilahirkan adalah perasaan puas dan tidak puas. Lingkungan yang berbeda dengan kandungan ibu memberi pengalaman tidak puas yang pertama kepada si individu baru itu. Baru setelah ia dibungkus selimut dan diberi kesempatan untuk menyusu, maka rasa tidak puas itu hilang. Kemudian setiap kali ia terkena pengaruh-pengaruh lingkungan yang menyebabkan rasa tidak puas tadi ia akan menangis, tetapi setiap kali diberi selimut dan susu ( yang mendatangkan rasa puas tadi ) ia merasa nyaman. Secara sadar si bayi telah belajar untuk tidak hanya mengalami, tetapi juga mengetahui cara mendatangkan rasa puas, yaitu dengan menangis.
Tiap hari dalam hidupnya berlalu, bertambahlah pengalamannya mengenai bermacam-macam perasaan baru, dan belajarlah ia merasakan kegembiraan, kebahagiaan, simpati, cinta, benci, keamanan, harga diri, kebenaran, perasaan bersalah, dosa, malu dan sebagainya. Selain perasaan-perasaan tersebut, juga berbagai macam hasrat, seperti hasrat untuk mempertahankan hidup, bergaul, meniru, tahu, berbakti, keindahan, dipelajarinya melalui proses internalisasi menjadi bagian kepribadian individu.

Proses internalisasi, adalah proses yang berlangsung sepanjang hidup individu, yaitu mulai saat ia dilahirkan sampai akhir hayatnya. Sepanjang hayatnya seorang individu terus belajar untuk mengolah segala perasaan, hasrat, nafsu dan emosi yang membentuk kepribadiannya. Perasaan pertama yang diaktifkan dalam kepribadian saat bayi dilahirkan adalah rasa puas dan tidak puas, yang menyebabkan ia menangis.

2.         Proses Sosialisasi
Proses sosialisasi berkaitan dengan proses belajar kebudayaan dalam hubungan dengan sistem sosial. Dalam proses itu seorang individu dari masa anak-anak hingga masa tuanya belajar pola-pola tindakandalam interaksi dengan segala macam individu sekelilingnya yang menduduki beraneka macam peranan sosial yang mungkin ada dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai ilustrasi dari suatu proses sosialisasi, berikut ini subuah contoh dari pengalaman-pengalaman seorang bayi Indonesia dalam suatu keluarga golongan pegawai tinggi di kota.
Dari permulaan hidupnya si bayi sudah harus menghadapi beberapa individu dalam lingkungan yang keci, ialah ibunya, seorang bidan atau juru rawat yang membantu ibunya semenjak ia lahir hingga ia berumur kira-kira seminggu, ibu dari ibunya dan dari ayahnya. Dalam kontak dengan keempat orang tadi ia mengalami tingkah laku mereka yang berdasarkan perhatian dan cinta. Kemudian dia juga belajar kebiasaannya yang pertama ialah, makan dan tidur pada saat-saat yang tepat. Tidak lama kemudian dia mendapat perhatian dari kakak-kakaknya yang biasa berjumlah banyak. Selama tumbuhnya pada tahun-tahun pertama, kedua, dan ketiga dari hidupnya, dengan susah payah dan disertai banyak konflik, seorang anak harus menyesuaikan segala keinginan dirinya sendiri dengan tokoh-tokoh tadi. Hubungannya dengan lingkungan sosialnya menjadi lebih intensif bila ia mengembangkan bahasanya sehingga ia dapat menguraikan isi hatinya dengan lebih jelas dan dapat lebih mudah menerima maksud dan pendirian individu-individu lain.
Selama masa kanak-kanak tersebut dia juga berkenalan dengan tokoh-tokoh lain, yakni para paman dan bibinya, para tetangga serta kenalan-kenalan ayah-ibunya, dan karena rumah di Indonesia sering kali mempunyai halaman luas, maka dengan bermain-main bersama anak tetangganya di halaman dia mengalami suatu proses sosialisasi yang luas.
Ketika seorang anak mulai sekolah, dia mulai belajar mengenai perbedaan antara jenis kelamin pria dan wanita. Menginjak usia remaja,hasrat birahinya mulai berkembang. Untuk itu ia harus belajar menyesuaikan diri dengan segala aturan kebudayaan, adat istiadat yang ada di masyaakat.
Contoh lain dari suatu proses sosialisasi yang dialami oleh bayi yang diasuh dalam keluarga-keluarga dari berbagai suku bangsa di Irian Jaya. Disana bayi pada usia yang sangat muda sering kali sudah akan berhadapan dengan berbagai wanita lain selain ibunya, hal itu terjadi setelah ibu yang melahirkan bayi tersebut telah merasa kuat untuk bekerja kembali ke kebun ubi. Setiap hari ibu membawa bayinya untuk bekerja. Bayinya diikat dipunggung ibunya, dan slama waktu istirahat bayi itu selalu dikerumuni dan banyak mendapat perhatian dari pada wanita lain di kebun.
Demikianlah para individu dalam masyarakat yang berbeda akan mengalami proses sosialisasi yang berbeda pula karena proses sosialisasinya banyak ditentukan oleh susunan kebudayaan dan lingkungan sosial yang bersangkutan.
Proses sosialisasi, semua pola tindakan individu-individu yang menempati berbagai kedudukan dalam masyarakatnya yang dikumpai seseorang dalam kehidupannya sehari-hari sejak ia dilahirkan. Para individu dalam masyarakat yang berbeda-beda juga mengalami proses sosialisasi yang berbeda-beda, karena proses itu banyak ditentukan oleh susunan kebudayaan serta lingkungan sosial yang bersangkuan.
Penelitian dilapangan telah dapat menghasilkan pengumpulan bahan mengenai adat istiadat pengasuhan anak, kebiasaan-kebiasaan dalam kehidupan seksual, dan riwayat hidup yang rinci dari sejumlah individu. Individu-individu yang mengalami berbagai hambatan dalam proses internalisasi, sosialisasi atau enkulturasinya, sehingga individu seperti itu mengalami kesukaran dalam menyesuaikan kepribadiannya dengan lingkungan sosial sekitarnya.

3.         Proses Enkulturasi
Istilah yang sesuai untuk kata enkulturasi adalah pembudayaan (dalam bahasa inggris digunakan istilah institutionalization). Proses enkulturasi adalah proses seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat, system norma, dan peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Proses enkulturasi sudah dimulai sejak kecil dalam alam pikiraan warga suatu masyarakat; mula-mula dari orang-orang di dalam lingkungan keluarganya, kemudian dari teman-temannya bermain.
Proses Enkulturasi, dalam proses ini seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat-istiadat, system norma, serta peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Kata enkulturasi dalam bahasa Indonesia juga berarti “pembudayaan”. Seorang individu dalam hidupnya juga sering meniru dan membudayakan berbagai macam tindakan setelah perasaan dan nilai budaya yang memberi motivasi akan tindakan meniru itu telah diinternalisasikan dalam kepribadiannya.

C.       Proses Evolusi Sosial

            Proses Mikroskopik dan makroskopik dalam evolusi sosial, Proses evolusi dapat dianalisis secara mendetail (makroskopik) tetapi dapat dilihat secara keseluruh, dengan hanya memperhatikan perubahan-perubahan besar yang telah terjadi (makroskopik). Proses evolusi sosial budaya secara makroskopik yang terjadi dalam suatu jangka waktu yang panjang, dalam antropologi disebut “proses-proses pemberi arah”, atau directional  proses. Proses-prosesberulang dalam evolusi sosial budaya. Dalam antropologi, perhatian terhadap proses-proses berulang dalam evolusi sosial budaya baru timbul sekitar tahun 1920 bersama dengan perhatian terhadap individu dalam masyarakat.
            Dalam meneliti masalah ketegangan antara adat istiadat yang berlaku dengan kebutuhan yang dirasakan oleh beberapa individu dalam suatu masyarakat, perlu diperhatikan dua konsep yang berbeda, yaitu (1) kebudayaan sebagai kompleks dari komsep norma-norma, pandangan-pandangan, dan sebagainya, yang bersifat abstrak (yaitu system budaya), dan (2) kebudayaan sebagai serangkaian tindakan yang konkrit, dimana para individu saling berinteraksi (yaitu system sosial). Kedua system tersebut sering saling bertentangan, dan dengan mempelajari konflik-konflik yang ada dalam setiap masyarakat itulah dapat diperoleh pengertian mengenai dinamika masyarakat pada umumnya.


1.         Proses Microscopic dan Macroscopic dalam Evolusi Sosial
Proses evolusi dari suatu masyarakat dan kebudayaan dapat dianalisis oleh seorang peneliti seolah-olah dari dekat secara detail (microscopic), atau dapat juga dipandang seolah-olah dari jauh dengan hanya memperhatikan perubahan-perubahan yang tampak besar saja (macroscopic). Proses evolusi sosial budaya yang dianalisis secara detail akan membuka mata peneliti untuk berbagai macam proses perubahan yang terjadi dalam dinamika kehidupan sehari-hari tiap masyarakat di dunia. Proses-proses ini disebut dalam ilmu antropologi “proses-proses berulang” (recurrent processes). Proses-proses evolusi sosial budaya yang dipandang seolah-olah dari jauh hanya akan menampakkan kepada peneliti perubahan-perubahan besar yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Proses-proses ini disebut dalam ilmu antropologi, “proses-proses menentukan arah” (directional processes).

2.         Proses-proses Berulang dalam Evolusi Sosial Budaya
Perhatian terhadap proses- proses berulang dalam evolusi sosial budaya,belum lama mendapat perhatian dari ilmu antropologi. Sikap, perasaan, dan tingkah laku khusus para individu dalam masyarakat yang mungkin bertentangan dengan adat istiadat yang lazim,diabaikan saja untuk tidak mendaat perhatian  layak. Dengan demikian, kalau seorang antropologi misalnya harus menulis tentang adat istiadat perkawinan orang bali, ia hanya akan mengumpulkan keterangan tentang hal yang lazim dilakukan di dalam perkawinan-perkawnan orang bali itu. Upacara, aktivitas, dan khusus,biasanya di abaikan atau kurang di perhatikan. Sikap individu yang hidup dalam banyak masyarakat terutama adalah mngingat keperluan diri-sendiri;dengan demikian ia dapat mungkin akan mencoba menghindari adat atau aturan bila tidak cocok dengan keperluan pribadian. Contoh:
Adat minang kabau mewajibkan seorang pria harus mewariskan harta miliknya kepada kemenakannya, yaitu anak dari saudara perempuannya. Ada seorang Adi yang mengabaikan adat ini dan mewariskan harta miliknya kepada anak nya sendiri. Tentu para kemenakan tidak puas, dan akan mengadukan soal itu kepada kepala adat. Mengingat pengaruh dari besar dari Adi, kepala adat yang berlaku sebagai hakim akan membuat suatu keputusan hukum adat yang membenarkan perbuatan Adi.
 
3.         Proses Mengarah dalam Evolusi Kebudayaan
Kalau evolusi masyarakat dan kebudayaan kita pandang seolah-olah dari suatu jarak yang jauh, dengan mengambi interval waktu yang panjang ( misalnya beberapa ribu tahu ), maka akan tampak perubahan-perubahan besar yang seolah-olah bersifat menentukan arah (directional) dari sejarah perkembangan masyarakat dan kebudayaa yang bersangkutan. Pada masa sekarang, gejala ini menjadi perhatian khusus dari suatu subilmu dengan antropologi, yaitu ilmu prehistori.
Ilmu ini mempelajari sejarah perkembangan kebudayaan manusia dalam jangka waktu yang panjang dan juga oleh para sarjana ilmu sejarah yang mencoba merekonstruksi kembali sejarah perkembangan seluruh umat manusia dan harus juga bekerja dengan jangka waktu yang panjang.

BAB III
PENUTUP
1.1     Kesimpulan
Antropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia dalam keberagaman masyarakat, suku dan adat istiadat. Di dalam dinamika masyarakat dan kebudayaan mempelajari tentang konsep-konsep khusus mengenai pergeseran masyarakat dan kebudayaan, Proses belajar kebudayaan sendiri, proses evolusi sosial. Dalam proses mempelajari kebudayaan kita akan melalui tahap demi tahap yang diawali sejak kita dilahirkan hingga sampai kita hampir meninggal.

1.2     Saran
Kita sebagai mahasiswa tidak terlepas dari dinamika masyarakat dan kebudayaan, oleh sebab itu kami sebagai pemakalah mengharapkan kepada siding pembaca dengan adanya makalah ini semoga kita dapat mengetahuai dinamika masyarakat dan kebudayaan. Dan semoga kita juga dapat memahami pergeseran masyarakat dan proses proses belajar kebudayaan sendiri.Walaupun makalah ini jauh dari kesempurnaan tetapi apabila kita membaca dan memahaminya, semoga sangat banyak manfaat yang dapat kita ambil.      

DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Sabtu, 30 November 2013

Asas-Asas Bimbingan Konseling



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Bimbingan dan Konseling merupakan pekerjaan pelayanan yang professional, yang menguraikan kefahaman, penanganan dan penyikapan tentang keadaan seseorang yang meliputi unsur kognisi, afeksi, dan psikomotori. Pekerjaan ini sangat penting sekali dalam dunia pendidikan, agar tercipta keserasian atau keharmonisan antara guru dengan siswa. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Ayat 1 dan 6 : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,  kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
Keberhasilan pelaksanaan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh kaidah-kaidah yang berlaku atau dalam kata lain disebut “asas”. Asas-asas bimbingan dan konseling merupakan rukun yang harus dipegang teguh dan dikuasai oleh seorang guru pembimbing/ konselor dalam menjalankan pelayanan.atau kegiatan  bimbingan dan konseling. Asas-asas tersebut adalah sebagai jiwa dan nafas dari seluruh kehidupan layanan bimbingan dan konseling. Apabila asas-asas ini  tidak dijalankan dengan baik, maka penyelenggaraan bimbingan dan konseling akan berjalan tersendat-sendat  atau bahkan terhenti sama sekali.

Dari sinilah pemakalah ingin membahas lebih dalam lagi mengenai pentingnya asas dalam bimbingan konseling, agar setiap orang bisa memahami lebih dalam lagi mengenai asas dan bidang dalam bimbingan konseling, agar tidak ada lagi kekeliruan dalam pemahaman mengenai asas dan bidang bimbingan konseling dengan judul “Asas-asas dan Bidang Bimbingan Konseling” yang akan dibahas dan diuraikan lebih lanjut dalam bab pembahasan.

A.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1.      Apa yang dimaksud dengan asas bimbingan dan konseling?
2.      Apa saja asas-asas dalam pelayanan bimbingan dan konseling?
3.      Apa saja bidang-bidang dalam bimbingan konseling?

B.     Tujuan
Adapun tujuan dari pembahasan makalah ini adalah :
 1.      Untuk mengetahui pengertian asas bimbingan dan konseling
 2.      Untuk mengetahui asas-asas dalam pelayanan bimbingan dan konseling
                         3.      Untuk mengetahui bidang apa saja yang ada di bimbingan konseling 



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Asas Bimbingan dan Konseling
Dalam kamus besar bahasa Indonesia asas berarti “Dasar”. Tetapi asas dalam pengertian disini adalah bukan dasar tetapi “Rukun”. Jadi asas bimbingan dan konseling berarti “Rukun yang harus dipegang teguh dan  dikuasai oleh seorang guru pembimbing atau konselor dalam menjalankan pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling”. (hasil diskusi kelas : 10-11-2013).
Asas-asas bimbingan dan konseling, yaitu ketentuan-ketentuan yang harus diterapkan dalam penyelenggaraan pelayanan tersebut. Apabila asas-asas itu diikuti dan terselenggara dengan baik sangat dapat diharapkan proses pelayanan mengarah pada pencapaian tujuan yang diharapkan. Apabila asas-asas itu diabaikan atau dilanggar sangat dikhawatirkan kegiatan yang dilaksanakan justru berlawanan dengan tujuan bimbingan dan konseling, bahkan akan dapat merugikan orang yang terlibat didalam pelayanan, serta profesi bimbingan dan konseling itu sendiri.
Setiap kegiatan kadang-kadang ada asas yang dijadikan pegangan dalam melaksanakan kegiatan tersebut, demikian pula dalam layanan/ kegiatan bimbingan dan konseling, ada asas yang dijadikan pegangan dalam menjalankan kegiatan itu. Menurut Prayitno ada dua belas asas yang harus menjadi dasar pertimbangan dalam kegiatan pelayanan bimbingan dan koseling. Asas-asas bimbingan dan konseling itu adalah: Asas kerahasiaan, As 

as Kesukarelaan, Asas Keterbukaan, Asas kekinian, Asas Kemandirian, Asas Kegiatan, Asas Kedinamisan, Asas Keterpaduan, Asas Kenormatifan, Asas Keahlian, Asas Alih Tangan, Asas Tut Wuri Handayani. [1]

A.    Deskripsi Asas-Asas Bimbingan dan Konseling
1.      Asas Kerahasiaan
Sebagaimana telah diketahui bahwa dalam kegiatan bimbingan dan koseling, kadang-kadang konseli harus menyampaikan hal-hal yang sangat pribadi/ rahasia kepada konselor. Oleh karena itu konselor harus menjaga kerahasiaan data yang diperolehnya dari konselinya. Sebagai konselor berkewajiban untuk menjaga rahasia data tersebut, baik data yang diperoleh dari hasil wawancara atau konseling, karena hubungan menolong dalam bimbingan dan konseling hanya dapat berlangsung dengan baik jika data atau informasi yang dipercayakan kepada konselor atau guru pembimbing dapat dijamin kerahasiaannya. Asas ini bisa dikatakan sebagai “Asas Kunci” dalam kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling, karena dengan adanya asas kerahasiaan ini dapat menimbulkan rasa aman dalam diri konseli.
Berdasarkan apa yang dikemukakan di atas, maka apa yang terjadi saat pelayanan bimbingan dan konseling yang dilakukan oleh konselor dan konseli baik itu isi pembicaraan atau pun sikap konseli, kerahasiaanya perlu dihargai dan dijaga dengan baik. Demikian pula catatan-catatan yang dibuat sewaktu atau pun sesudah wawancara atau konseling perlu disimpan dengan baik dan kerahasiaanya dijaga dengan cermat oleh konselor.

2.      Asas Kesukarelaan[2]
Telah dikemukakan bahwa bimbingan merupakan proses membantu individu. Perkataan membantu disini mengandung arti bahwa bimbingan bukan merupakan suatu paksaan, akan tetapi merupakan suatu binaan. Oleh karena itu dalam kegiatan bimbingan dan konseling diperlukan adanya kerjasama yang demokratis antara konselor/ guru pembimbing dengan konselinya. Kerjasama akan terjalin bilamana konseli dapat dengan suka rela menceritakan serta menjelaskan masalah yang dialaminya kepada konselor.

3.      Asas Keterbukaan
Asas keterbukaan merupakan asas yang sangat penting bagi konselor/ guru pembimbing, karena hubungan tatap muka antara konselor dan konseli merupakan pertemuan bathin tanpa tedeng aling-aling. Dengan adanya keterbukaan ini dapat ditumbuhkan kecenderungan pada konseli untuk membuka dirinya, untuk membuka kedok hidupnya yang menjadi penghalang bagi perkembangan psikisnya. Konselor yang sukses adalah konselor yang bisa memudahkan konseli untuk membuka dirinya dan berusaha memahami lebih jauh tentang dirinya sendiri. Truax dan Carkhuff menyimpulkan bahwa “ada hubungan yang erat antara keterbukaan konselor dan kemampuan klien membuka diri (self exploration).”
Asas ini menghendaki agar konseli bersifat terbuka dan tidak berpura-pura dalam memberikan keterangan maupun informasi. Dalam hal ini konselor/ guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli. Agar konseli dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. Hal demikian akan mendorong konseli mengekspresikan pengalaman pribadinya.

4.      Asas Kekinian[3]
Pada umumnya pelayanan bimbingan dan konseling bertitik tolak dari masalah yang dirasakan konseli saat kini atau sekarang, namun pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling itu sendiri menjangkau dimensi waktu yang lebih luas, yaitu masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Permasalahan yang dihadapi oleh konseli sering bersumber dari rasa penyesalannya terhadap apa yang terjadi pada masa lalu, dan kekhawatiran dalam menghadapi apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang, sehingga ia lupa dengan apa yang harus dan dapat dikerjakannya pada saat ini.
Sesuai apa yang terkemukan di atas, maka diharapkan konselor dapat mengarahkan konseli untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapinya sekarang. Sebagaimana firman Allah SWT.
ÎŽóÇyèø9$#ur ÇÊÈ ¨bÎ) z`»|¡SM}$# Å"s9 AŽô£äz ÇËÈ žwÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# (#öq|¹#uqs?ur Èd,ysø9$$Î (#öq|¹#uqs?ur ÎŽö9¢Á9$$Î ÇÌÈ
Artinya :
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al Ashr : 1-3).

5.      Asas Kemandirian[4]
Salah satu tujuan pemberian layanan bimbingan dan konseling adalah agar konselor berusaha menghidupkan kemandirian di dalam diri konseli. Ciri-ciri kemandirian tersebut yaitu mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli. Agar dapat tumbuh sikap kemandirian tersebut, maka konselor harus memberikan respon yang cermat terhadap konseli atas keluhan-keluhan yang diungkapkan.

6.      Asas Kegiatan
Dalam proses pelayanan bimbingan dan konseling kadang-kadang konselor memberikan beberapa tugas dan kegiatan pada konslinya. Dalam hal ini konseli harus mampu melaksanakan sendiri kegiatan-kegiatan tersebut dalam rangka mencapai tujuan bimbingan dan konseling yang telah ditetapkan. Asas ini menghendaki agar konseli bisa berpartisipasi secara aktif atas kegiatan yang diselenggarakan oleh konselor. Di pihak lain konselor harus berusaha/ mendorong agar konseli mampu melaksanakan kegiatan yang telah ditetapkan tersebut.


7.      Asas Kedinamisan[5]
Keberhasilan usaha pelayanan bimbingan dan konseling ditandai dengan terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku konseli ke arah yang lebih baik. Untuk mewujudkan terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku itu membutuhkan proses dan waktu tertentu sesuai dengan kedalaman dan kerumitan masalah yang dihadapi konseli. Isi layanan bimbingan dan konseling dari asas ini adalah selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. Konselor dan pihak-pihak lain diminta untuk memberikan kerjasama sepenuhnya agar pelayanan bimbingan dan konseling yang diberikan dapat dengan cepat menimbulkan perubahan dalam sikap dan tingkah laku konseling.

8.      Asas Keterpaduan
Pelayanan bimbingan dan konseling menghendaki terjalin keterpaduan berbagai aspek dari individu yang dibimbing. Untuk itu konselor perlu bekerja sama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang dihadapi konseli. Dalam hal ini peranan guru, orang tua, dan siswa-siswa yang lain sering kali sangat menentukan. Konselor harus pandai menjalin kerja sama yang saling mengerti dan saling membantu demi terbantunya konseli yang mengalami masalah.

9.      Asas Kenormatifan
Pelayanan bimbingan dan konseling yang dilakukan hendaknya tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat dan lingkungannya. Dalam kegiatan bimbingan dan konseling, konselor tentu akan menyertakan norma-norma yang dianutnya ke dalam hubungan konseling, baik secara langsung atau tidak langsung. Tetapi harus diingat bahwa konselor tidak boleh memaksakan nilai atau norma yang dianutnya itu kepada konselinya. Seluruh layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling ini adalah didasarkan pada norma-norma yang berlaku yaitu norma agama, hukum, peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Bahkan lebih jauh lagi, layanan/ kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan siswa/ konseli dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan norma-norma tersebut.

10.  Asas Keahlian[6]
Untuk menjamin keberhasilan usaha bimbingan dan konseling, para petugas harus mendapatkan pendidikan dan latihan yang memadai. Pengetahuan, keterampilan, sikap dan kepribadian yang ditampilkan oleh konselor/ guru pembimbing akan menunjang hasil konseling. Pendek kata bahwa para pelaksana layanan bimbingan dan konseling ini harus benar-benar ahli dibidang bimbingan dan konseling, atau dalam istilah lain adalah profesional.

11.  Asas Alih Tangan
Bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang menangani masalah-masalah yang cukup pelik. Berhubung hakekat masalah yang dihadapi konseli adalah unik (kedalamannya, keluasannya, dan kedinamisannya), disamping pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh konselor adalah terbatas, maka ada kemungkinan suatu masalah belum dapat diatasi setelah proses konseling berlangsung. Dalam hal ini konselor perlu mengalih tangankan (referal) konseli pada pihak lain (konselor) yang lebih ahli untuk menangani masalah yang sedang dihadapi oleh konseli tersebut. “Pengalihan tanganan seperti ini adalah wajib, artinya masalah klien tidak boleh terkatung-katung di tangan konselor yang terdahulu itu.” (Prayitno: 1981).

12.  Asas Tut Wuri Handayani[7]
Sebagaimana yang telah dipahami dalam pengertian bimbingan dan konseling bahwa bimbingan dan konseling itu merupakan kegiatan yang dilakukan secara sistematis, sengaja, berencana, terus menerus, dan terarah kepada suatu tujuan. Oleh karena itu kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya dirasakan adanya pada saat konseli mengalami masalah dan menghadapkannya kepada konselor/ guru pembimbing saja. Kegiatan bimbingan dan konseling harus senantiasa diikuti secara terus menerus dan aktif sampai sejauh mana konseli telah berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Asas ini menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, dan memberikan rangsangan dan dorongan, serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada konseli untuk maju. (Anas Salahudin. Bimbingan dan Konseling: 2010 Hal. 42).

B.     Bidang- bidang  Bimbingan Konseling[8]
Secara umum bidang- bidang bimbingan konseling yaitu :
1.      Bidang Pribadi
Bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memehami, menilai dan mengembangkan potensi kecakapan, bakat dan minat, serta kondisi sesuai dengan karakteristik keperibadian dan kebutuhan dirinya secara realistik.
2.      Bidang Sosial
Bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan social yang sehat dan efektif dengan teman sebaya, anggota keluarga dan warga lingkungan sosialyang lebih luas.
3.      Bidang Belajar
Bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah dan belajar dan belajar secara mandiri.
4.      Bidang Karir
Bimbingan pelayanan yang membantu peserta didik dam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.
Selain bidang- bidang tersebut, ada 3 bidang yang ditambah, yaitu :
5.        Bidang bimbingan konseling dan akademik[9]
Proses bantuan untuk memfasilitasi siswa dalam mengembangkan pemahaman dan keterampilan dalam belajar, dan memecahkan masalah-masalah belajar dalam akademik.
6.      Bidang Agama
7.      Bidang keluarga


BAB III
PENUTUP


              [1]. Prof. Dr. H.Prayitno, M.Sc.Ed., dan Drs.Erman Amti, Dasar – dasar Bimbingan dan Konseling.(Jakarta: PT. RINEKA CIPTA, 2004), hlm. 115. onseli/ siswa. Maka dari itu penulis dapat memberikan saran kepada semua pihak yang terlibat sebagai pelaksana pendidikan atau bisa disebut sebagai seorang guru (pembimbing) dan calon guru (mahasiswa jurusan pendidikan), agar tetap selalu bertanggungjawab atas keberhasilan siswa dalam rangka mencetak kepribadian yang luhur. Dan bagi calon guru diharapkan mencari refrensi lain yang berkaitan dengan bimbingan dan konseling, karena kami (penulis) merasa isi makalah ini ada kekurangan.

    [2] Ibid, hlm. 116.
[3] Ibid, hlm. 117.
[4] Ibid, hlm.117.
[5] Ibid, hlm. 118.
[6] Dr.Syamsu Yusuf, L.N., dan Dr.A.Juntika Nurihsan, Landasan Bimbingan dan Konseling.
(Bandung: PT. REMAJA ROSDAKARYA, 2005), hlm. 23.
[7] Ibid, hlm.24.
[8] Ibid, hlm.28.
[9] http://bimbingankonselingmuha.wordpress.com/bidang-bk/